“Minggu sebelum musibah, keluarga dari Bajawa ingin menjemput dia untuk beristirahat sejenak di rumah. Dia menjawab. ‘Kalau saya pergi, siapa mengurus semua anak ini?’ Ternyata dia sendiri mati dalam musibah. Sedangkan semua suster dan anak asrama selamat,” ujar Leo Kleden.
Leo juga mengatakan, Almarhumah adalah seorang hamba Tuhan yang tangan dan hatinya bersih. Sewaktu bertugas di Ende, Sr Nikolin membereskan keuangan Klinik Bersalin milik SSpS dari korupsi yang dilakukan oleh seorang dokter dan beberapa perawat.
“Sewaktu menjadi bendahara yayasan yang mengurus Rumah Sakit Santo Gabriel Kewapante, Maumere, dia membongkar penyalahgunaan uang sekitar 300 juta rupiah. Sewaktu menjadi pemimpin komunitas Larantuka dia lagi-lagi membereskan penyalahgunaan di komunitas ini,” ujar Leo.
Menurut Leo, Sr Nikolin menjalani hidup bakti selama 34 tahun dengan motto: ‘Tuhan, Engkau tahu bahwa aku mengasihi Engkau’ (Yoh. 21: 17). Tuhan menjemput kekasihnya dalam tidur dengan pijar batu dari gunung api.



Tinggalkan Balasan