Dengan kegiatan yang dilaksanakan tersebut, Robert P. Fanggidae ingin memberikan pesan kepada masyarakat untuk harus mengubah perilaku yang harus dimulai dari rumah.

“Untuk mulai memilah sampah sebagai bagian dari perbaikan tata kelola harusnya dimulai dari rumah tangga dan industri. Satu hari sampah 233 ton, dan paling sedikit 40 kendaraan minimal. Kalau mau angkut sekaligus bisa 45 kendaraan,” terangnya

Dengan kondisi ini, maka pemerintah diharapkan bisa mengatur cara pengangkutan sampah berdasarkan jenis sampah organik dan non organik, serta mengatur waktu lama transit di tempat sampah di TPS.

“Supaya orang tidak memukul tempat sampah. Tempat sampah semua di Kota Kupang dipukul hancur karena tidak jelas waktu pengambilannya. Sehingga masyarakat buang lebih banyak di jalur 40,” terangnya.

Karena itu, Robert P. Fanggidae yang juga adalah Direktur Utama Bank TLM ini menyatakan, untuk mengurus sampah di Kota Kupang perlu kolaborasi dan sinerigi dari semua pihak.

“Perlu perbaikan dan peran para pihak mulai dari masyarakat, dunia industri, perguruan tinggi, pemerintah sendiri dan juga badan usaha yang ada di Kupang harusnya terlibat bersinergi untuk mengatasi sampah di Kota Kupang. Karena suatu saat sampah pasti jadi masalah. Ciri masalah perkotaan itu kan sampah,” pungkasnya.