Ia menyarankan agar kerja sama dengan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan terus dibangun, agar penelitian-penelitian seperti situs Gajah Mada dan lain-lain bisa dilakukan di Kabupaten Sabu Raijua.
Tim ITB Sadrak menambahkan, kenapa pihaknya melirik Sabu Raijua dalam penelitian ini? Salah satu alsannya adalah karena ITB mempunyai obsevatorium Internasional, kondisi cuaca iklim atmosfir di jawa dan sekitarnya sudah sangat jelek sehingga obsevatorium nasional ini sudah tidak berfungsi lagi.
Untuk itu ia berharap Indonesia mempunyai obsevatorium Nasional yang mendunia dan cuaca yang paling baik untuk Observatarium di Indonesia yang di dapatkan di pulau Sabu Raijua.
Tapi sayangnya, Sabu Raijua hanya punya bukit yang tingginya 320 meter saja, sedangkan untuk obserVaturium minimal berada pada ketinggian 1.300 meter. Menurutnya Sabu Raijua juga mempunyai potensi yang sangat luar biasa yang orang lain tidak memiliknya.
Ia mengusulkan tentang perlunya Perda agar cahaya lampu tidak boleh menyorot ke atas atau kearah langit supaya kita mempunyai langit yang gelap, ini menjadi salah satu kriteria dalam melakukan opservasi langit dan akan menjadi salah satu tujuan wisata nantinya. Bila perdanya sudah ada maka mereka akan menolong dalam proses pendaftarannya di tingkat nasional dan tentunya sabu raijua akan menjadi yang pertama di nindonesia.





Tinggalkan Balasan