Berdasarkan beberapa isu krisis global di atas, lalu seperti apa manusia harus bersikap dan memandang keberlanjutan masa depan dunia ini? Atau kita dapat kembali pada pertanyaan refleksi kita bahwa masih adakah harapan bagi dunia di tengah gempuran krisis global? Jawaban dari pertanyaan ini tentu saja akan bersifat subyektif. Tergantung apakah saya, anda, kita semua termasuk dalam golongan pesimis tau optimis? Saya sendiri akan melihatnya dari kacamata golongan optimis yang percaya bahwa tentu saja masih ada harapan yang positif bagi dunia ini. Manusia pada dasarnya telah diciptakan dengan kemampuan adaptasinya yang sangat baik. Berbagai bencana besar baik bencana ala, peperangan, penyakit, krisis ekonomi dan lain sebagainya telah dilalui oleh manusia. Covid-19 contohnya, adalah salah satu bencana terbesar yang terjadi dalam kurun waktu 5 tahun terakhir dan membawa dampak pada perubahan global yang cukup siginifikan. Bencana ini menyebabkan hampir seluruh bidang aktivitas manusia lumpuh total. Manusia diisolasi dalam rumah-rumah mereka, bahkan dalam kamar-kamar mereka terkurung sendirian dalam keadaan sakit. Akan tetapi, dengan adanya teknologi seperti internet memungkinkan manusia masih dapat berbagi kabar dan meminta atau memberikan bantuan dari jarak jauh. Berbagai jenis pekerjaan yang sempat berhenti karena pandemi covid kemudian dapat dikerjakan jarak jauh dengan bantuan teknologi komputer, aplikasi meeting dan internet. Kegiatan belajar mengajar bahkan diagnosis beberapa penyakit ringan dilakukan secara online (jakar jauh). Bahkan beberapa model kehidupan kota yang awalnya cenderung individualis kembali pada model-model sosialisasi zaman dulu dimana manusia hidup bersosialisasi dan saling tolong menolog antar sesama manusia bahkan yang tidakdikenal sekalipun. Oleh karena itu, kelahiran teknologi yang sekilas masih dapat kita lihat dari kacamata positif lainnya. Lapangan pekerjaan yang hilang akan tetap memaksa manusia untuk menemukan berbagai jenis pekerjaan atau aktivitas baru. Masalah ini juga tidak akan menjadi masalah satu pihak tetapi juga menjadi masalah dunia. Seluruh dunia ikut memikirkan masalah ini sehingga solusi-solusi akan tersu berdatangan. Jiwa manusia yang diciptakan kompetitif akan membuat manusia survive. Manusia cenderung berpikir kristis dan kreatif disaat ia berada dalam tekanan dan kesulitan yang hari ini bahkan melahirkan teknologi-teknologi yang kita takutkan. Manusia tidak akan ketakutan melainkan akan menciptakan teknologi lain untuk meredam ketakutannya.