Aksi Penghadangan di Lungar Manggarai, Warga Lempar Mobil Polisi

Kolase foto aksi penghadangan aparat kepolisian Polres Manggarai di Lungar, Manggarai. (Foto: Yhono Hande)

Ruteng, KN – Dua unit mobil dinas milik Kepolisian Resor Manggarai rusak terkena lemparan batu yang dilakukan oleh sejumlah warga saat melakukan aksi penghadangan di simpang tiga Desa Lungar, Kecamatan Satar Mese, Kabupaten Manggarai, Nusa Tenggara Timur (NTT) Sabtu, 25 November 2023.

Aksi penghadangan dari sejumlah warga tersebut diketahui buntut dari tolak proyek strategis nasional (PSN) Pengembangan PLTP Ulumbu unit 5-6 di Poco Leok.

Dalam Pantauan Koranntt.com di lokasi tampak belasan warga itu duduk berjejer di badan jalan. Tak jauh dari tempat itu, badan jalan juga sudah mereka penuhi dengan batu-batu berukuran kecil hingga besar. Batang kayu dan batang pisang juga tampak berada di tengah jalan.

Sementara di pinggir jalan, tampak juga warga lainnya mengabadikan momen itu dengan kamera handphone.

Alasan dibalik penghadangan tersebut lantaran tidak mengizinkan tim PLN UIP Nusra masuk ke wilayah Poco Leok sehingga mereka rela duduk dan berdiri di jalan. Bahkan, mereka menempatkan batu-batu besar agar mobil yang mengangkut tim PLN UIP Nusra tak bisa melintas.

Rombongan PLN UIP Nusra yang dikawal Aparat TNI – Polri terus merangsek menembus blokade para warga tersebut. Saat bersamaan, warga yang tolak Geothermal Poco Leok itu terus berteriak mendesak pihak PLN UIP Nusra pulang.

Tampak juga seorang pria yang mengenakan kaos berkerak dan berwarna hitam putih memukul mobil dan mengambil batu di sekitar lokasi lalu melemparkannya ke arah mobil dinas polisi yang di tumpangi oleh Kasat Sabhara.

Bukan hanya sekali, pelaku yang bernama Benyamin itu dengan brutal melempar mobil sebanyak 3 kali. Usai diketahui oleh petugas kepolisian Benyamin tampak melarikan diri hingga bersembunyi di semak-semak.

Akibatnya, di mobil milik polisi dan kendaraan roda dua warga Lungar rusak pada bagian-bagian bodi hingga pecah.

Selain mobil Polisi, kendaraan roda dua milik warga pun ikut pecah pada bagian bodi-bodi akibat tindakan warga.

“Mundur mundur, mundur,” sorak mereka sembari memegang kayu dan batu.

Aksi protes pun terus berjalan, namun aparat kepolisian tetap menghalau massa agar tak menghalangi laju kendaraan Dalmas dan beberapa mobil lainnya.

“Inewai Poti, toe ma ritaks, (perempuan iblis, tidak tau malu),” teriak salah satu perempuan tua yang mengenakan topi dan ikat rambut dengan hiasan mawar merah sepadan dengan warna celananya.

BACA JUGA:  Uskup Ruteng Sampaikan 7 Poin Pengembangan Pariwisata di Manggarai Raya

“Polisi keta ngasang, polisi ngasang keta, toe ritak (Polisi memang kamu, kamu memang polisi, tidak tau malu),” teriak perempuan lainnya yang mengenakan jaket merah maron.

Warga Lungar Dipukul Hingga Benjol

Pasangan Suami Istri (Pasutri), Baltasar Anor (46), bersama istrinya Veronika Salome (43), asal Ndajang, desa Lungar, juga dikeroyok massa aksi tolak pembangunan Geothermal Unit 5-6 Poco Leok.

Peristiwa pengeroyokan ini terjadi saat Baltasar bersama istrinya menggunakan sepeda motor hendak mengikuti kegiatan sosialisasi Free Prior Informed Consent (FPIC) atau persetujuan atas dasar informasi diawal tanpa paksaan (PADIATAPA) perluasan PLTP Ulumbu unit 5-6 Poco Leok, yang berlangsung di Rumah Adat Gendang Mesir, pada Sabtu 25 November 2023 pagi.

Pasutri asal Desa Lungar ini dihadang massa aksi saat melintas di pertigaan Desa Lungar. Tampak sejumlah orang memukul Baltasar dan istrinya di kerumunan massa aksi.

Kepada Koranntt.com, korban Veronika mengaku jika pada lengan bagian kanan serta punggungnya dipukul massa aksi.

“Yang pukul saya (red, Veronika) tadi tanta Sebet dan tanta Jus, saat kami lewat pake motor,” jelas Veronika.

Ulah para pelaku ini, jelas Veronika sekujur tubuhnya keram dan panas, akibat benturan serta pukulan bertubi-tubi dari pelaku bernama Sebet dan Yus.

“Saya punya lengan bengkak dan sakit dibagian punggung karena dipukul. Saya rasa keram dan panas,” ucapnya.

Sementara Baltasar Anor suami Veronika, tak luput dari amukan massa saat mengendarai sepeda motor jenis Supra menuju kampung Mesir desa Lungar.

“Saya dengan istri mau ikut acara sosialisasi di Gendang Mesir, kami dicegat. Mereka (massa aksi) langsung pukul saya di pelipis dan pipi. Dan langsung bengkak,” jelas korban Baltasar.

Kepada pihak Kepolisian, Baltasar mendesak agar para pelaku segera diproses secara hukum karena dengan nekat dan brutal menyerang dia bersama istrinya Veronika.

Hingga berita ini diterbitkan, pihak Polres Manggarai belum berhasil untuk dimintai keterangan. (*)