“Kemudian untuk beras 141 kg dikalikan dengan harga Rp10.000 per kg yaitu Rp1.410.000 lalu dikalikan dengan 62 KK maka totalnya Rp7.420.000. Sehingga total keseluruhannya sekitar Rp161.820.000 saja. Berarti kemungkinan besar sisa dananya Rp51.180.000 itu baru dari pagu dana khusus ketahanan pangan”, beber Pantur.
Selain itu, tambah dia, kami menilai Kades ini acuh tak acuh dengan masyarakat. Bahkan sang kades pernah mendatangi dirinya untuk mengakui kesalahannya.
“Kalau dia makan sampai angka ratusan juta itu sudah masuk pada unsur kesengajaan. Sementara ini baru tahun pertama menjabat sebagai kades, belum untuk tahun-tahun yang tersisa kedepannya,” ujar Pantur.
Meski demikian, pihaknya juga mempertanyakan beras sisa pada tahun anggaran 2022.
Namun, setelah mempertanyakan beras sisa tersebut, sang kades baru membagi sisanya sebanyak 41 kg pada tahun 2023.
Anehnya, sang kades sempat meminta maaf dan mengaku keliru, sementara di sisi lain kekeliruannya itu tidak diperbaiki.
“Artinya kami minta untuk memperbaiki hal yang salah tapi sampai hari ini tidak ada perbaikan itu. Bahkan tambah parah lagi dia sampai hari ini juga sudah memblokir nomor kontak kami karena dianggap sebagai pengganggu”, imbuhnya.
Warga lainnya, Sales Ratu mengungkapkan hal yang sama terkait dugaan korupsi Kades Cireng tahun anggaran 2022.
Ia menjelaskan, masalah stunting dalam laporannya terealisasi selama 12 bulan, namun kenyataannya hanya terealisasi 3 bulan dari pagu dana sebesar Rp23.000.000. Sales juga melihat ada kejanggalan pada laporan penggunaan dana stunting tersebut untuk 3 dusun dan 4 tempat posyandu.
“Setelah saya tanya kader posyandu di kampung Lala tidak ada sama sekali tapi dalam laporannya terealisasi selama 12 bulan. Sementara untuk di dusun Perang ada terealisasi selama 3 bulan pertama saja”, jelas mantan Sekretaris BPD tahun 2017-2023 itu.
Tak hanya itu, beber dia, ada juga laporan fiktif yang dilakukan Kades Cireng, misalnya dana pencegahan Covid dengan total anggaran sebesar Rp80.000.000 pemanfaatannya tidak jelas. Sebab, pengadaannya hanya ada tong air saja sementara untuk sabunnya tidak ada. Masyarakat juga bingung kegunaan dari tong air itu.







Tinggalkan Balasan