“Tapi hasil pantauan kami di masyarakat, jenis bantuannya tidak berupa ternak babi, karena dalam APDes-nya hanya menyebutkan anggaran Rp213.000.000 saja”, jelas dia.
Kata Benediktus, total penerima bantuan ketahanan pangan dan ternak babi sebanyak 62 kepala keluarga. Anehnya, kata dia, dalam realisasi anggaran malah diberikan berupa uang tunai bervariasi antara penerima yakni, ada yang sebesar Rp1.000.000, Rp1.100.000, Rp1.200.000 bahkan ada yang Rp1.300.000.
“Lalu beras 141 kg per KK, tetapi yang terealisasi bantuan beras pada tahun 2022 hanya 100 kg, sementara 41 kg-nya terealisasi pada Februari 2023”, kata Pantur.
Masih menurut mantan wakil ketua BPD periode 2017-2023 itu, untuk membeli ternak babi dan beras sebanyak 141 kg kepada 62 KK masih tersisa. Lebih lanjut dia menjelaskan, jika dihitung harga anakan babi di pasaran per ekor sebesar Rp1.200.000 lalu dikalikan dengan 62 KK, maka anggaran yang dikucurkan sebesar Rp74.400.000.
“Kemudian untuk beras 141 kg dikalikan dengan harga Rp10.000 per kg yaitu Rp1.410.000 lalu dikalikan dengan 62 KK maka totalnya Rp7.420.000. Sehingga total keseluruhannya sekitar Rp161.820.000 saja. Berarti kemungkinan besar sisa dananya Rp51.180.000 itu baru dari pagu dana khusus ketahanan pangan”, beber Pantur.





Tinggalkan Balasan