Selain ekonomi hijau, NTT juga kaya akan ekonomi biru dengan kekayaan alam laut yang luar biasa, dan jika dikelola dengan baik, maka hasilnya sangat baik.
Plt. Kepala Bappelitbangda Provinsi NTT menambahkan, ke depan, pemerintah terus melaksanakan pembangunan yang berorientasi pada lingkungan, seperti penggunaan EBT, dan penanaman Bambu, serta koservasi untuk menjaga kelestarian lingkungan.
“Untuk masyarakat, mari kita sadar akan kebersihan lingkungan. Masyarakat harus buang sampah sembarangan. Kedua, masyarakat bisa menggunakan kendaraan listrik. Tapi yang paling penting, jaga kebersihan lingkungan,” tandasnya.
Sementara itu, Green Growth Planning and Policy Specialist ICRAF Feri Johana mengatakan, pihaknya berkomitmen mendukung Bappelitbangda dalam aspek metodologi, untuk memfasilitasi kegiatan pertumbuhan ekonomi hijau.
“Tentu secara muatan, secara komitmen, secara ide, gagasan dan keputusan dimiliki oleh Bapak Ibu selaku pemangku kepentingan di Provinsi NTT. Kami dari ICRAF akan memfasilitasi dari sisi metodologi, dari sisi proses, dan mungkin dari sisi analisis. Tapi dari sisi muatan, ide, gagasan data dan kerangka merupakan kontribusi dari OPD,” ujar Feri Johana.
Ia menjelaskan, pertumbuhan ekonomi hijau merupakan gagasan di mana model pembangunan ke depan, akan bertumpuh pada bagaimana mendayagunakan sumber daya di Provinsi NTT secara berkelanjutan.
“Kami berharap Bapak Ibu yang hadir di sini menjadi ambasador atau duta untuk pertumbuhan ekonomi hijau di masing-masing institusinya,” jelas Feri.
Feri berharap ke depan, ada sebuah tim yang dibentuk oleh Bappelitbangda atau pemerintah Provinsi NTT. Tim tersebut akan bersama ICRAF melaksanakan program pertumbuhan ekonomi hijau, sehingga dapat dirasakan manfaatnya oleh masyarakat. (*)







Tinggalkan Balasan