Hakim Konstitusi Prof. Arif dalam paparannya menegaskan, bahwa bangsa Indonesia sangat beruntung memiliki Pancasila sebagai ideologi negara. Ia memiliki keyakinan bangsa ini akan terus eksis dengan ideologi Pancasila. Sebab, negara-negara dengan ideolgi agama pun saat ini, gaya hidup masyarakatnya semakin hedon, tanpa mengutamakan nilai-nilai Ketuhanan, gotong royong maupun toleransi. 

Prof Arief juga menerangkan gambaran peradaban manusia. Dari peradaban yang sangat sederhana disebut dengan hunting society beralih pada agrarian society. Kemudian terjadinya revolusi industri dengan  ditemukan mesin uap, listrik dan lainnya.

Bertahun-tahun kemudian menuju pada information society dengan ditemukan komputer dan sebagainya, hingga peradaban saat ini yang disebut era 4.0 bahkan sudah memasuki era 5.0 atau super smart society yang mengalami perkembangan sungguh luar biasa.

“Seperti dilakukan MK sekarang yang tengah mengembangkan teknologi digital. Tapi apakah semua bidang kehidupan akan digantikan dengan teknologi digital? Semuanya harus tetap berbasis pada kemanusiaan (human being),” jelas Arief.

Namun demikian, lanjur Prof Arif, tekonologi juga memiliki sisi negatif, karena banyak orang yang tidak bertanggung jawab ketika menggunakan media komunikasi ataupun media sosial lainnya. “Masyarakat kita akan mudah sekali meniru budaya barat. Padahal Indonesia memiliki budaya yang sangat luar biasa,” ujarnya.

Yang lebih ironis, kata Prof. Arif, pada era yang disebut post-truth saat ini, sesuatu yang tidak benar, namun diulang-ulang di media sosial, maka itu akan menjadi kebenaran. Menurut Arief, ujaran kebencian dan narasi negatif yang bertujuan memecah belah bangsa banyak berseliweran di media sosial. Hal ini harus diganti dengan narasi-narasi toleransi, gotong royong dan nilai-nilai luhur bangsa Indonesia.

Berikutnya, Prof. Arief menerangkan konsep VUCA yang merupakan istilah di dunia militer tahun 1990-an. Konsep ini menurut Arief merupakan gambaran masyarakat pada era 5.0 seperti sekarang. VUCA adalah singkatan dari V (Volatility), U (Uncertainty), C (Complexity), A (Ambiguity). Volatility artinya perubahan yang serba cepat. Dalam masyarakat yang dinamis, berubah secara cepat dan sulit diprediksi, tidak terukur, maka dibutuhkan visi, tujuan, niat yang baik.