“Setelah dilatih, para relawan akan melakukan pertemuan dan melaksanakan kegiatan, dan materi yang mereka rancang bisa dilaksanakan di gereja dan pertemuan-pertemuan sekolah minggu. Jadi walaupun tanggap darurat sudah ditutup, tapi kegiatan-kegiatan ini terus berlanjut,” ungkap pria yang akrab disapa Wadin ini.
Komitmen WVI melakukan upaya tanggap darurat, juga diwujudkan dalam bentuk penguatan kapasitas semua stakeholder baik itu pemerintah, tokoh masyarakat, LSM, dan tokoh agama dalam rangka respons dan mitigasi terhadap bencana alam.
Kegiatan penguatan kapasitas dilaksanakan selama 3 hari yaitu dari tanggal 25 sampai 28 Januari 2023 di T-More Hotel dan melibatkan BPBD, LSM, Forum PRB Kabupaten Kupang dan Provinsi NTT, Perwakilan GMIT, tokoh agama, aparat Desa, kaum disabilitas, dan tokoh masyarakat dari Kabupaten Kupang maupun Kabupaten Alor.
“Penguatan kapasitas ini kiranya membuat pemerintah desa ketika terjadi bencana, mereka punya kesiap-siagaan. Dan setidaknya mereka tahu apa saja hal-hal utama yang mereka lakukan seperti data, skala prioritas, dan pertolongan-siapa saja yang membutuhkan pertolongan pertama. Kegiatan ini murni sebagai respons kita atas bencana Hidrometeorologi di Kubupaten Kupang,” tandasnya. (*)





Tinggalkan Balasan