Kupang, KN – Kongregasi Daughters of Charity of The Most Precious Blood (DCPB) Kupang menggelar misa syukur di Paroki Santa Familia Sikumana, Jumat 6 Januari 2022.
Perayaan misa ini merupakan bagian dari peringatan hari lahir Kongregasi Daughters of Charity of The Most Precious Blood atau DCPB yang ke-150 tahun.
Perayaan ini dipimpin langsung oleh Uskup Agung Kupang, Mgr. Petrus Turang, dihadiri Gubernur NTT, Viktor B. Laiskodat dan Ketua DPRD NTT, Ir. Emilia Julia Nomleni.
Hadir juga Penjabat Walikota Kupang, George Melkianus Hadjoh, para imam, biarawan dan biarawati, serta seluruh umat Paroki Santa Familia Sikumana Kupang.
Uskup Agung Kupang, Mgr. Petrus Tarung, dalam khotbahnya mengatakan, semua umat harus melihat wajah Yesus Kristus dalam diri para suster.
“Kalian adalah suster putri kasih dari darah yang maha mulia. Semua orang harus melihat wajah Kristus dalam diri kalian,” ujar Mgr. Petrus Turang.
Para suster, kata dia, lebih realnya harus masuk untuk menemukan kasih dalam diri orang-orang yang sederhana dan miskin.
Gubernur NTT, Viktor Bungtilu Laiskodat mengucapkan selamat kepada para suster atas perayaan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-150 DCPB.
“150 tahun ini usia yang sudah tua,” ungkap Gubernur Viktor Bungtilu Laiskodat dalam sambutannya.
Menurut Gubernur Laiskodat, ia hadir dalam perayaan misa syukur DCPB untuk memberikan Pekerjaan Rumah (PR) bagi para suster untuk menanam kelor.
“Kehadiran saya ini ada Pekerjaan Rumah (PR) buat suster. Jadi 1000 pohon kelor, dalam empat bulan kedepan sudah saya lihat,” jelasnya.
Untuk mensukseskan program kelor, Gubernur Laiskidat meminta Pemkot Kupang untuk menyiapkan lahan kosong dan membangun kerjasama dengan para suster.
“Karena saya lebih percaya dengan suster-suster. Kalau mereka kerja pasti berhasil,” ungkapnya.
Dia menjelaskan, dalam hubungan interaksi pembangunan di NTT antara gereja, pemerintah dan masyarakat harus terus dilakukan evaluasi.
Sehingga, kata dia, peran pembangunan orang miskin di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) sudah bisa diselesaikan, dan mereka dapat menjadi manusia yang mandiri.
Ia menerangkan, untuk menyelesaikan kemiskinan di NTT, salah satunya dengan cara menanam kelor. Karena empat bulan pasca menanam sudah bisa dipanen. Bahkan sampai 60 tahun lamanya.
“Karena itu saya berharap kita semua yang ada di Provinsi NTT ini harus terpanggil untuk menanam kelor,” ungkap Gubernur Laiskodat.
Ia menambahkan, dengan kerja kolaboratif, semua masalah di NTT, terutama kemiskinan bisa diselesaikan dalam jangka waktu yang tidak terlalu lama.
“Karena kita punya satu komoditi yang bisa menyelamatkan kita, yaitu kelor,” pungkas Laiskodat.
DCPB, Suster Gabriela Nura, menjelaskan, karya kerasulan Kongregasi DCPB bergerak di sejumlah bidang, yakni di Paud, SD, bidang kesehatan, rumah sakit, panti jompo dan panti asuhan.
Dia menerangkan, Kongregasi DCPB diharapkan terus berkembang, serta karya pelayanan yang dilakukan dapat diterima ditengah masyarakat.
“Kami harap kongregasi dan karya kerasulan kami bisa diterima oleh masyarakat, dan kami dapat melayani umat melalui karya kerasulan ini,” ungkapnya.
Ia menambahkan, suatu saat nanti semoga DCPB diberikan ijin untuk melanjutkan karya kerasulan sesuai pendiri Beato Tommaso Maria Fusco. (Ratna/Veronika).





Tinggalkan Balasan