Pastor Fridus juga menyoroti terkait lingkungan hidup, ruang hidup masyarakat, tanah milik warga, potensi bencana ke depan, serta potensi pencemaran lingkungan karena kehadiran PLTP Ulumbu.

Ia menerangkan, dark aspek ekologis, selama ini cara pandang masyarakat masih seputar antroposentris, yang artinya hanya demi manusia, tanpa memikirkan alam yang selalu menopang kehidupan manusia.

“Kalaupun suatu saat warga Poco Leok terima semua, JPIC tetap berjuang karena di sana ada pohon, tanaman, udara dan lain-lain,” tegasnya.

“Kita juga harus membuka mata dengan kehancuran akibat kehadiran Geotermal itu. Yang paling dekat itu di Mataloko, atau di Damu itu, seng rumah yang cepat karat,” tutupnya.

Direktur JPIC Keuskupan Ruteng, Marthen Jenarut, menjelaskan, JPIC hanya diajak untuk melakukan diskusi bukan konsultasi terkait Perluasan PLTP Ulumbu.

“PLTP Ulumbu bukan melakukan konsultasi tapi mengajak kami untuk diskusi,” katanya. 

Dia menjelaskan, pihaknya sudah menegaskan bahwa kegiatan eksplorasi Geotermal harus tetap menjaga kondisi lingkungan hidup, serta memberikan jaminan terhadap hak-hak dasar masyarakat untuk menikmati ruang hidup yang nyaman dan bersih.