Mereka belum siap dengan perubahan iklim yang terjadi di semua belahan dunia termasuk di Goloworok. Mereka sudah terbiasa dengan siklus pertumbuhan kopi dan proses pembuahannya.

Petani Kopi di Goloworok Lazarus Jhon menjelaskan, fenomena perubahan iklim yang terjadi telah berpengaruh pada hasil panen selama ini.

“Dulu kalau ranting kopi udah berbunga putih, biasanya tidak turun hujan. Tapi akhir-akhir ini terjadi perubahan yang ekstrim. Justru ketika ranting kopi udah berbunga putih, hujan lebat turun. Ketika itu terjadi, kita akan tahu kalau hasil panen pasti kurang,” kata Lazarus.

Petani kadang kesal dengan fenomena alam yang tak menentu ini karena telah berdampak pada kesulitan untuk memenuhi kebutuhan hidup di keluarganya.

Petani-petani juga berpikir untuk menanam bibit lain selain kopi dan cengkeh demi mendapatkan sumber pemasukan lain. Itupun belum tentu berhasil.

Ignaz Sarang, salah seorang pemuda yang bergabung dengan Ayo Indonesia, mengatakan Perubahan Iklim ini telah menjadi masalah global tak  terkecuali untuk petani di Goloworok.