Sementara di Kabupaten Manggarai, ada aliran baru yang dinilai sangat meresahkan masyarakat.

“Mereka mulai terusik, karena anak mereka mulai percaya dan keluar dari tradisinya sebagai orang katolik,” tandasnya.

Ketua GP Ansor NTT, Ajhar Jowe, menjelaskan, dengan adanya Rapat Koordinasi yang digelar Kejati NTT, pihaknya bisa menukar informasi serta menguodate perkembangan sejumlah aliran yang ada di NTT.

“Agar penyampaian seluruh lini itu tidak bertataran dengan penafsiran masing-masing orang. Cara pandangnya harus bersatu dulu. Jangan sampai ada penafsiran berbeda yang dapat mempengaruhi asumsi masyarakat,” jelasnya.

Rakor yang diadakan, kata dia, pihaknya terus memberikan dukungan kepada Kejati NTT dan seluruh Kejari di NTT untuk bisa melakukan koordinasi dalam penanganan masalah tersebut.

“Kita harap Kejari itu bisa melakukan koordinasi seperti ini, sehingga informasi aliran dan kepercayaan di masyarakat itu bisa diketahui bersama,” pungkasnya.

Tim Pakem itu terdiri dari pihak Badan Intelijen Negara Daerah Provinsi NTT, Direktur Intelkam Polda NTT, Pasi Intel Korem 161 Wira Sakti, Dinas Kesbangpol NTT.