Siti Nadia Tarmizi menanggapi perbedaan antara temuan KOPMAS terkait perbedaan kasus stunting di lapangan dan laporan Dinas Kesehatan. Nadia mengatakan Kementerian Kesehatan mencoba memperkuat sisi pencatatan dengan sistem surveilans gizi melalui E-PPGBM (Elektronik-Pencatatan dan Pelaporan Gizi Berbasis Masyarakat).

Nadia juga menyampaikan beberapa wilayah yang mengalami disparitas prevalensi stunting yang tinggi terdapat pada tujuh daerah di Indonesia, yaitu NTT, Sulawesi Barat, Aceh, NTB, Sulawesi Tenggara, Kalimantan Selatan, dan Kalimantan Barat.

Terhadap wilayah-wilayah tersebut, dr. Nadia mengatakan pemerintah secara aktif melakukan sweeping dan memonitor kasus melalui posyandu dengan cara penguatan sistem surveilans gizi, pelaksanaan audit stunting, dan Intervensi stunting dengan kebijakan pengelolaan gizi buruk yang terintegrasi.

Jurnalis dalam workshop ini juga berpeluang mengikuti beasiswa peliputan dan mentoring terkait stunting, dengan batas waktu penyerahan formulir usulan topik liputan pada 11 Agustus 2022. Usulan liputan bisa dikirimkan melalui surel: program@ajijakarta.org. Tersedia beasiswa senilai total Rp28 juta untuk lima jurnalis terpilih. (*)