Berdasarkan hasil riset, korporasi-korporasi besar di Indonesia jumlahnya kurang dari dua persen dan menurutnya, jika seluruh dunia perbankan berebut pasar kecil itu maka tentu persaingannya akan ketat sekali. Namun sesungguhnya ini tidak serta merta membangun basis ekonomi nyata dari Indonesia.
Diakui bahwa jika hari ini Gubernur NTT dan Bank NTT bertemu tantangan, mengenai peralihan pembayaran dengan menggunakan layanan digital, maka itu sebuah hal yang lumrah. Masyarakat memang merasakan ada hal yang baru, dan ada yang familiar serta ada yang tidak.
“Memperkenalkan sesuatu yang baru itu tidak mudah. Bahkan tingkat kegagalannya cenderung tinggi sekali tetapi tetap harus dilakukan. Saya senang, mengapa Bank NTT ini harus saya beri apresiasi, karena nama lembaga keuangan ini saja sudah Bank Pembangunan Daerah. Tapi tidak sering kita sebut. Harusnya nama aslinya BPD. Dialah motor pembangunan di daerah. Dia sedang menjalankan fungsinya, misinya. Karena ini sesuatu yang baru, maka kita kerjanya lebih keras dari pekerjaan pelayanan perbankan konvensional,”ujar Prof. Kameo.





Tinggalkan Balasan