Rektor Unwira: Simposium Internasional ke-6 ASPAC MER Digelar Secara Hybrid

Unwira Kupang telah menyiapkan penyelenggaraan simposium internasional tersebut selama dua tahun terakhir.

Rektor Unwira: Simposium Internasional ke-6 ASPAC MER Digelar Secara Hybrid
Rektor Unwira Kupang P. Dr. Philipus Tule, SVD bersama Kepala Divisi Humas Unwira Kupang Mikhael Rajamuda Bataona, M.Ikom saat menyampaikan keterangan Pers kepada wartawan beberapa waktu lalu. (Foto: Ama Beding)

Kupang, KN – Rektor Universitas Katolik Widya Mandira (Unwira) Kupang, P. Dr. Philipus Tule, SVD mengatakan, simposium internasional ke-6 ASPAC MER bakal digelar secara hybrid.

Unwira Kupang telah menyiapkan penyelenggaraan simposium internasional tersebut selama dua tahun terakhir. Simposium internasinal ASPAC MER sebenarnya dilaksanakan pada tahun 2020.

Namun seiring merebaknya Covid-19, maka kegiatan ini ditunda dan akhirnya diselenggarakan pada tahun ini dengan berbagai macam keterbatasan.

“Kehadiran partisipan diharapkan bisa sampai 40 sampai 50 orang. Tetapi kita juga menyiapkan saluran online. Jadi simposium internasional ini akan dilaksanakan secara hybrid atau offline dan online,” kata Pater Rektor Unwira kepada wartawan dalam jumpa Pers, Rabu 22 Juni 2022.

Menurutnya, akan ada 24 peserta dari berbagai negara di Asia Pasifik, ditambah 26 lebih peserta lokal terdiri dari para dosen dan mahasiswa serta undangan yang akan menghadiri simposium secara offline.

“Kita juga mempersiapkan teknologi, karena kita akan melaksanakan kegiatan ini secara online. Kita bersyukur bahwa semua itu kita bisa siapkan mulai dari fasilitas IT, sarana dan pra sarana, serta ruangan yang bagus untuk bisa melaksanakan simposium internasional yang juga akan disiarkan secara online,” jelasnya.

BACA JUGA:  Sadis! Randy Bawa Jenazah Astrid dan Lael Keliling Kota Kupang Sebelum Dikubur

Pakar Islamologi ini menyampaikan, simposium ini akan menyajikan pengalaman dari para peneliti senior, yang berpengalaman di level internasional.

“Unwira sedang mempersiapkan pendirian program studi baru yaitu Antropologi. Rencana-rencana penelitian kebudayaan dan lain-lain akan menjadi lebih efektif dan produktif dengan kehadiran program studi Antropologi,” ungkapnya.

Pater Rektor berharap dukungan dari berbagai pihak terutama pemerintah, agar pihaknya bisa mengundang profesor berpengalaman dari luar negeri untuk memberikan kuliah, bimbingan, riset dan publikasi untuk para dosen dan mahasiswa. (*)