Si-bungsu menyesali semuanya itu. Ia pulang kembali pada bapanya dengan sesal yang mendalam. Ia menyesal dan kemudian bertobat. Inilah intinya. Namun bukan berarti bahwa kita diajak untuk harus berdosa barulah kemudian bertobat. Bukan itu maksudnya. Dalam kasus si-bungsu ini kita perlu menimba makna _soal pulang kembali pada Bapa untuk tiap kesalahan yang kita sesali._
Pada Bapa kita temukan hati yang terbuka. Hati yang tidak menghitung kesalahan tiap kita. Hati yang selalu menerima siapapun dan seberdosa apapun dia. Kita selalu dikenakan jubah baru untuk sebuah hidup yang baru, yakni hidup di dalam Allah.
Sementara si sulung, memperhitungkan semua kebaikan yang ia buat bersama bapa. Kelemahan si-sulung adalah tidak menyadari berkat yang ia dapat sejak bersama bapa. Ia sebatas melihat kebaikan sang bapa sebatas pada hal-hal yang tampak secara fisik.
Kehadiran kita di dalam Bapa yang kita imani, terkadang membuat kita lupa. Lupa bahwa kita harus tetap bersyukur dalam tiap berkat yang kita dapat. Sekecil atau sesederhana apapun itu. Kadang kita baru akan bersyukur untuk sesuatu yang terlihat mata. Di luar itu kadang tidak. Maka semoga kita bisa menyadari bacaan hari ini sebagai sebuah awasan bagi kita. (*)



Tinggalkan Balasan