Injil Lukas 15:1-3, 11-32

Bacaan injil pada hari minggu ini berkisah perumpaan tentang domba (secara singkat) dan anak yang hilang.

Pada perumpaan tentang domba yang hilang secara singkat dikisahkan tentang penilaian orang Farisi terhadap pemungut cukai yang dianggap sebagai kelas pendosa. Resikonya bagi Farisi, Yesus tak pantas datang dan mewartakan kerajaan Allah pada para pendosa. Bedanya, orang Farisi sama sekali tak menyadari bahwa mereka adalah juga berdosa. Mereka tetap mengklaim diri sebagai yang paling benar.

Pada perumpaan kedua, bicara tentang anak yang hilang. Anak hilang ini dikelompokan dalam dua pribadi yakni bungsu dan sulung. Si bungsu menerima harta miliknya dan kemudian memboroskan di tempat dimana ia menjalani hidupnya dengan berbagai tindakan yang tidak berkenan. Sementara si sulung memilih untuk tetap bersama bapanya.

Si-bungsu dapat kita pahami bahwa selama ia masih memiliki harta, ia malah sama sekali tidak bersyukur untuk apa yang ia miliki. Baginya ia pantas untuk menikmatinya. Kelemahannya adalah melupakan semua kebaikan yang diberi. Ia baru mengingat bahwa ini adalah kesalahan yang ia perbuat ketika hartanya habis terpakai. Kadang kita juga berada di posisi seperti ini. Kita baru akan menyesal setelah semuanya terpakai tanpa bersyukur sebelumnya.