
Kemudian Desa Duarato. Desa ini terkenal dengan wisata budaya, karena memiliki kampung adat yang mirip dengan Wae Rebo di Kabupaten Manggarai.
“Di situ kita lagi mendampingi mereka punya perkebunan Kopi yang cukup luas di atas pegunungan. Kopi ini yang akan kita eksplor bersama kelompok-kelompok usaha tani. Tapi kita kawinkan dengan konsep wisata kampung adat dan silat kampung,” ungkap Adrianus.
Selain itu, ada Desa Dirun di Fulan Fehan. Desa ini punya potensi pariwisata serta Kaktus dan Kopi yang sangat luar biasa. Desa yang terakhir adalah Desa Kabuna di wilayah perbatasan yang punya spot-spot foto keren.
“Di sana ada perkawinan budaya Timor Leste dan Belu, makanan khas seperti Roti Paun, juga tenun ikat alami yang dibuat dari Kapas dan pewarna alam. Itu ada di Duarato dan Kabuna,” ujarnya.

Wisata Rohani Salib Santo Fransiskus Xaverius dan Kampung Mgr. Gabriel Manek
Di antara lima desa yang diikutsertakan dalam ajang Festival PAD dan Desa Binaan Bank NTT, ada satu desa yang terkenal dengan wisata rohaninya, yaitu Desa Fatulotu, Lahurus.
Desa ini adalah tempat kelahiran Uskup pribumi kedua di Indonesia sekaligus calon orang kudus (Beato) Mgr. Gabriel Manek, SVD.
Pemimpin Cabang Bank NTT Atambua Adrianus M. Pontus menyampaikan, Desa Fatulotu selain terkenal karena merupakan kampung kelahiran Mgr. Gabriel Manek, di tempat tersebut ada juga salib yang ditancapkan oleh Santo Fransiskus Xaverius sekitar tahun 1500 ketika berkunjung ke Pulau Timor.
“Di situ (Desa Fatulotu, red) ada UMKM yang kita bina. Ada perkebunan Salak yang dikelola oleh OMK dan kelompok masyarakat di Desa,” pinta Adrianus.
Ia berharap proses Festival PAD dan Desa Binaan Bank NTT berjalan dengan lancar, sehingga semakin mempertegas peran Bank NTT sebagai agen of development.
Rencananya puncak acara Festival PAD dan Desa Binaan Bank NTT serta program Ramai Skali bakal digelar pada bulan Juli 202 mendatang, bertepatan dengan HUT ke-60 Bank NTT. (*)







Tinggalkan Balasan