Untuk itu, kata Boni, pelaku usaha Kopi harus melihat kegiatan Kopi secara menyeluruh, dari pohon Kopi sampai ke cangkir di Labuan Bajo.

“Sehingga penting untuk bertahap mulai dari hulu bagaimana produktivitas yang dilakukan, kemudian bagaimana penanganan pasca panen sehingga mendapatkan kopi yang baik, mulai dari rosting, goreng dan sortir. Di hilirnya bagaimana cara menyeduh kopi dan bagaimana pemasaran yang secara terus menerus sehingga pihaknya mendapatkan bagiannya secara merata,” kata Boni yang juga Ketua Kadin Manggarai itu.

Ia menjelaskan fit back dengan menjadi kesejahteraan petani Kopi tentunya dengan cara menganalisis bagaimana mengolah Kopi yang baik sehingga petani dapat meningkatkan kesejahteraan.

“Swot analisis, untuk membuat orang tertarik pada Kopi harus ada nila kelihatan ekonomis yang dicapai. Kemudian agrowisata, karena itu pendapatnnya dua kali lipat dibandingkan dengan jual biji Kopinya. Ini yang belum kita gerakan sama sekali,” katanya.

“Sebab tujuan besarnya adalah tentu meningkatkan pendapat semua stekolder bukan hanya petani. Kemudian membuat anak muda tertarik untuk urus tentang Kopi, sehingga semua ini menjadi rangkaian Kopi baik dari hulu maupun ke hilir saling tarik menarik sehingga peracik kopi baik di hulu juga hilir akan mendapatkan hasil yang cukup,” lanjutnya menambahkan.