Kain tenun yang dihasilkan punya kualitas yang berbeda dengan kain tenun yang dijual di pasaran. Kain tenun milik Kelompok Tenun Flobamorata punya keunggulan tersendiri yaitu tidak luntur, dan bisa dicuci kapan saja.
Kemandirian Ekonomi
Meski usianya baru lebih dari 1 dekade, namun kehadiran Kelompok Tenun Flobamorata telah menjadi wadah untuk memacu kemandirian ekonomi. Produk lokal berupa kain tenun yang dihasilkan jadi nilai tambah secara ekonomi.
“Omzet sekarang baru Rp7 Juta, dihitung dari penjualan tahun kemarin dan juga tambahan modal dari pemerintah melalui Dinas Perindag,” jelas Nita.
Walaupun hasil penjualan tidak seberapa, namun ia mengaku sangat membantu semua anggota kelompok. Hasil penjualan tidak hanya untuk disimpan menjadi saldo kas kelompok, tapi juga untuk kemandirian ekonomi keluarga mereka.
Setiap anggota kelompok punya akses memperoleh dana dari kelompok untuk kepentingan ekonomi dan pendidikan anak-anak yang hendak bersekolah di luar daerah.
“Kami punya kendala dalam penjualan. Selama ini kami hanya jual-jual melalui facebook saja,” ucap Nita didampingi ibunda tercinta Yuliana Upas.
Lopo Di@ Bisa
Di sisi lain, Bank NTT sebagai mitra UMKM menyediakan fasilitas barcode QRIS atau alat pembayaran secara online, serta Lopo Di@ Bisa Bank NTT sebagai wadah untuk menjual hasil produksi Kelompok Tenun Flobamorata.
Lopo Di@ Bisa Bank NTT di Desa Dualaos ini dulunya terkenal sebagai kandang ternak. Namun berkat kreativitas tim Bank NTT dan Kepala Desa Dualaos, kandang ternak itu disulap menjadi tempat rekreasi yang digemari oleh kaum muda.
Bukan hanya kain tenun, tapi berbagai produk lokal seperti kerajinan tas dari daun Lontar, Abon Ikan, Kripik, dan Kopi Lakmaras pun dijual oleh pelaku UMKM mitra binaan Bank NTT di Lopo Di@ Bisa Bank NTT, Desa Dualaos.








Tinggalkan Balasan