Belu  

Memacu Kemandirian Ekonomi di Batas Negara

Kelompok Tenun Flobamorata (Foto: Ama Beding)

Atambua, KN – Ramai pengunjung lalu lalang di sekitar lapak penjual produk-produk lokal masyarakat setempat. Beberapa dari pengunjung bukan orang asing. Mereka baru tiba, setelah meninjau lokasi food estate di Desa Rotiklot, Kecamatan Kakuluk Mesak, Kabupaten Belu, Provinsi NTT pada Minggu 23 Januari 2022.

Ada Gubernur Nusa Tenggara Timur Viktor Bungtilu Laiskodat dan Bupati Belu Agustinus Taolin serta rombongan pimpinan Organisasi Perangkat Daerah (OPD). Hadir juga Direktur Utama Bank NTT Harry Alexander Riwu Kaho dan Direktur Kredit Bank NTT Paulus Stefan Messakh serta para Kepala Divisi dan Kepala Cabang Bank NTT.

Di ujung barat, sekelompok wanita duduk menjajakan kain tenun khas Flobamorata. Mereka adalah warga Desa Dualaos, Kecamatan Kakuluk Mesak, Kabupaten Belu yang mengais rejeki dari penjualan kain tenun. Wanita-wanita ini bersatu dalam Kelompok Tenun Flobamorata.

Nama Flobamorata sengaja digunakan karena kelompok tenun ini memproduksi dan menjual kain tenun bukan hanya dari Kabupaten Belu, tetapi juga dari beberapa Kabupaten di wilayah pulau Flores, Timor, Sumba, Sabu, Rote dan Alor.

Gubernur NTT Viktor Laiskodat dan Direktur Utama Bank NTT Harry Alexander Riwu Kaho mengunjungi lapak pelaku UMKM (Foto: Ama Beding)

Di tengah keramaian pengunjung, Nita Uskono (35) tampak sibuk merapikan kain tenun yang dipajang. Tampak beberapa baju, tas, dan topi yang dipadukan dengan kain tenun motif daerah.

“Anggota Kelompok Tenun Flobamorata berjumlah 10 orang. Sebagian anggota kelompok bukan warga asli Dualaos,” kata Nita kepada Koranntt.com.

Menurut Nita, Kelompok Tenun Flobamorata berdiri pada tahun 2010. Sebagian anggota kelompok berasal dari Flores, Soe, dan Kefa, bahkan ada yang asalnya dari Timor Leste.

Awalnya mereka secara swadaya mengumpulkan dana untuk membeli benang sendiri dan kemudian menenun dan menjual lewat Kelompok Tenun Flobamorata.

Usaha wanita-wanita yang berada di batas Negara Republik Indonesia dan Timor Leste ini ternyata membuahkan hasil yang memuaskan. Selain menenun, kelompok UMKM mitra binaan Bank NTT ini juga menerima pesanan dari luar seperti menjahit baju seragam instansi atau lembaga.

Kain tenun yang dihasilkan punya kualitas yang berbeda dengan kain tenun yang dijual di pasaran. Kain tenun milik Kelompok Tenun Flobamorata punya keunggulan tersendiri yaitu tidak luntur, dan bisa dicuci kapan saja.

Kemandirian Ekonomi

Meski usianya baru lebih dari 1 dekade, namun kehadiran Kelompok Tenun Flobamorata telah menjadi wadah untuk memacu kemandirian ekonomi. Produk lokal berupa kain tenun yang dihasilkan jadi nilai tambah secara ekonomi.

“Omzet sekarang baru Rp7 Juta, dihitung dari penjualan tahun kemarin dan juga tambahan modal dari pemerintah melalui Dinas Perindag,” jelas Nita.

Walaupun hasil penjualan tidak seberapa, namun ia mengaku sangat membantu semua anggota kelompok. Hasil penjualan tidak hanya untuk disimpan menjadi saldo kas kelompok, tapi juga untuk kemandirian ekonomi keluarga mereka.

BACA JUGA:  ABK Kapal Feri Ile Mandiri Jatuh ke Laut, Hingga Saat Ini Belum Ditemukan

Setiap anggota kelompok punya akses memperoleh dana dari kelompok untuk kepentingan ekonomi dan pendidikan anak-anak yang hendak bersekolah di luar daerah.

“Kami punya kendala dalam penjualan. Selama ini kami hanya jual-jual melalui facebook saja,” ucap Nita didampingi ibunda tercinta Yuliana Upas.

Lopo Di@ Bisa

Di sisi lain, Bank NTT sebagai mitra UMKM menyediakan fasilitas barcode QRIS atau alat pembayaran secara online, serta Lopo Di@ Bisa Bank NTT sebagai wadah untuk menjual hasil produksi Kelompok Tenun Flobamorata.

Lopo Di@ Bisa Bank NTT di Desa Dualaos ini dulunya terkenal sebagai kandang ternak. Namun berkat kreativitas tim Bank NTT dan Kepala Desa Dualaos, kandang ternak itu disulap menjadi tempat rekreasi yang digemari oleh kaum muda.

Bukan hanya kain tenun, tapi berbagai produk lokal seperti kerajinan tas dari daun Lontar, Abon Ikan, Kripik, dan Kopi Lakmaras pun dijual oleh pelaku UMKM mitra binaan Bank NTT di Lopo Di@ Bisa Bank NTT, Desa Dualaos.

Penyerahan Kredit Merdeka dari Bank NTT untuk pelaku UMKM, petani dan nelayan di Desa Dualaos, Kabupaten Belu oleh pejabat Pemkab Belu dan Direktur Kredit Bank NTT Paulus Stefan Messakh (Foto: Ama Beding)

Data per Juli 2021, total ada lebih dari 40 Lopo Di@ Bisa Bank NTT telah dibangun dan tersebar di seluruh Kabupaten/Kota di Provinsi NTT.

“Kehadiran Lopo Di@ Bisa Bank NTT diharapkan menjadi penggerak ekonomi desa dan wadah pemberdayaan pelaku UMKM,” kata Direktur Utama Bank NTT Harry Alexander Riwu Kaho.

Dukungan terhadap pelaku UMKM juga diberikan oleh Bank NTT melalui Kredit Mikro Merdeka. Kredit Mikro Merdeka adalah produk yang diluncurkan oleh Bank NTT untuk memberdayakan pengusaha yang selama ini bergerak dalam bidang UMKM. Skim kredit ini merupakan upaya Bank NTT untuk mempercepat pembangunan dan pertumbuhan serta pemulihan ekonomi, pasca dilanda COVID-19.

Lewat Kredit Mikro Merdeka, nasabah bebas merdeka dari bunga pinjaman, bebas merdeka dari renteinir dan bebas merdeka dari agunan. Hingga bulan Desember 2021, Bank NTT telah menyalurkan dana sekitar Rp10,8 Miliar untuk membiayai 2.099 pelaku UMKM.

“Ini merupakan pola pembiayaan dari Bank NTT. Kita punya peluang bahwa, masyarakat kita dan usaha mereka yang di desa mau berkembang. Karena itu, kita biayai menggunakan Kredit Mikro Merdeka Bank NTT,” kata Direktur Kredit Bank NTT Paulus Stefen Messakh kepada wartawan.

Bank NTT juga menyiapkan market place, untuk menyambut era digitalisasi di tengah pandemi COVID-19. Aplikasi market place bernama GO NTT atau Gerbang Online NTT telah dilaunching di Labuan Bajo pada bulan Juni 2021 silam.

Aplikasi GO NTT diharapkan menjadi wadah penjualan produk lokal pelaku UMKM binaan Bank NTT secara online, agar lebih mudah diakses oleh pembeli dari berbagai pelosok dunia. (*)