“Hal ini menjadi ikhtiar batiniah untuk menghadapi situasi ini, semoga Allah SWT Tuhan Yang Maha Esa, memberikan rahmat bagi kita semua,” tutur Kakanwil Kemenag NTT, Reginaldus.

Ia menjelaskan, pelaksanaan doa, diikuti semua tokoh agama, dan peserta auidens dari berbagai agama itu menjadi bukti terwujudnya kerukunan beragama dan implementasi dari Moderasi Beragama, dalam mengukuhkan persatuan dan keutuhan bangsa.

“Kerukuan umat beragama adalah bagian penting dari keberhasilan pembangunan bangsa yang memiliki berbagai suku, ras, adat budaya dan agama,” jelasnya.

Rektor Universitas Katolik Widya Mandira Kupang, Pater Dr. Philipus Tule, S.VD, dalam ceramahnya, ia mengajak peserta untuk wujudkan negara yang Baldatun Thoyyibatun Warobbun Ghofur.

Menurutnya, kalimat itu merupakan jimat dari umat Islam, yang memilili arti bahwa, negara yang baik akan senantiasa mendapatkan rahmat dan ampunan dari Tuhan yang maha rahim.

“Maka berdoalah selalu, karena doa itu dialog, memanggil Tuhan dalam jiwa kita untuk memohon rahmat dan perlindungan, dengan cara iman yang kita yakini, karena kekuatan doa itu luar biasa,” ajak pater Philipus Tule.