Sehingga, ketika berlibur ke NTT, ia memilih untuk tinggal Kupang, karena melihat banyak kaumnya yang tidak berani tampil di publik.
“Sehingga dia putuskan tetap di Kupang, dan mau mengangkat potensi dari para kaum tuli. Dia juga membentuk komunitas tuli di Kota Kupang, yang hingga sekarang keanggotaanya sudah 70 orang,” pungkasnya.
Untuk diketahui, Mario sendiri merupakan seorang sarjana desain grafis, dan sekarang mengabdi sebagai guru di SLB Efata dan SLB di Naibonat, Kabupaten Kupang. (*)
Halaman



Tinggalkan Balasan