Dia menjelaskan, secara internal, pariwisata merupakan tempat dibangunnya
sebuah pastoral, teologi, liturgi yang aktual, serta kontekstual, dan integral. Secara eksternal, pariwisata adalah medan dialog dan perjumpaan antara manusia, kebudayaan, agama, dan komunitasnya.

“Selain itu, pariwisata membangun interkulturalitas, multikulturalisme, interreligious, dan interkomunitas. Karena pariwisata telah menjadi jembatan dan perekat antara umat manusia yang bersifat
inklusif. Dimana setiap destinasi wisata adalah rumah bhinneka tunggal ika,” jelasnya.

Melalui pariwisata, gereja diharapkan terlibat signifikan, namun perlu disadari, wisata bukan suatu pemberian sempurna. Namun harus berusaha, dan berupaya untuk disempurnakan. Sehingga masih banyak catatan negatif dari pariwisata.

“Pada Sinode III, kami beberapa kesempatan sudah menekankan beberapa prinsip penting
untuk pengembangan pariwisata di wilayah
Manggarai Raya yang menjadi medan penggembalaan Keuskupan Ruteng ini,” jelasnya.

Dengan demikian, Uskup Sipri Hormat mengajak pimpinan daerah wilayah Manggarai, Manggarai Timur, dan Manggarai Barat untuk bersinergi dalam menyikapi persoalan yang sedang dihadapi, dengan mengintervensinya melalui program pemerintah.