“Misalnya, kawasan-kawasan pesisir kita cukup banyak kaya dengan komoditi kelapa. Produk kelapa bisa mendatangkan banyak sekali nilai tambah selain jika hanya dijual buah begitu saja. Kelapa yang sudah tua, selain bisa menghasilkan minyak kelapa murni, namun limbah-limbah kelapa tua bisa diolah melalui teknologi tertentu untuk menghasilkan kerajinan-kerajinan yang memiliki nilai ekonomis tinggi. Sabut kelapa sekarang sudah bisa dibuat aneka kerajinan seperti keset, tas, tali, topi, dan lain-lain. Sedangkan tempurung/batok kelapa bisa diolah menjadi barang kerajinan seperti alat makan, hiasan dinding, lampu hias, bahkan bisa dibuat briket batok kelapa yang punya nilai jual ekonomi tinggi,” jelas Marsel Payong.

Selain itu lanjut dia, Persoalannya terletak pada sumber daya manusia yang masih rendah, kurangnya kreativitas, dan keterampilan untuk mengolahnya serta masih terbatasnya pelaku-pelaku ekonomi kreatif sebagai agen penggerak.

“Selain itu, dukungan teknologi dan modal yang masih terbatas juga menjadi kendala. Namun demikian, jika pemerintah daerah atau pemerintah desa punya kemauan maka hal itu bisa diatasi. Khusus untuk masyarakat pedesaan, dana-dana desa dapat digunakan untuk pemberdayaan masyarakat desa melalui peningkatan keterampilan masyarakat dan belanja teknologi. Dalam hal ini kita berhadap banyak dari BUMDES yang ada di desa-desa agar dapat berkontribusi bagi tumbuhnya pelaku-pelaku ekonomi kreatif di desa-desa,” tururnya.