“Insan cerdas kreatif tidak ditentukan oleh hasil ujian nasional atau hasil asesmen kompetensi minimal tetapi oleh perubahan mindset sebagai pelaku-pelaku usaha dan bukan hanya sebagai pekerja,” imbuhnya.

Ia menerangkan Selain kurikulum 2013 dengan pendekatan saintifik yang berorientasi pada pembentukan kemampuan berpikir tingkat tinggi dan pembentukan kreativitas, kurikulum muatan lokal memainkan peranan penting.

Kurikulum muatan local selama ini hanya dipahami sebagai masuknya konten-konten budaya local ke dalam kurikulum di sekolah. Padahal spirit dari muatan local itu sendiri adalah konten-konten yang berkaitan dengan pengembangan potensi local di mana peserta didik itu berada sehingga kelak dia bisa memanfaatkan keterampilan yang dimilikinya untuk mengolah potensi-potensi lokalnya.

“Contohnya, kurikulum muatan local di sekolah yang punya kekayaan alam seperti bambo, maka kurikulum muatan lokalnya adalah keterampilan-keterampilan kreatif yang berkaitan dengan pengolahan bambu. Dan untuk kurikulum muatan lokal tidak ada salahnya jika sekolah juga menggandeng pelaku-pelaku ekonomi kreatif terkait agar anak-anak sejak dini diperkenalkan dengan keterampilan-keterampilan untuk mengolah produk-produk lokalnya,” tutupnya.

Diketahui kegiatan tersebut juga dihadiri oleh narasumber lainya, Yohanes Mario Vianney,.SS.,MM. sebagai Akademisi, Fabianus Hadiman Bosco sebagai Akademisi dan Pegiat Literasi, Agustinus Hartono sebagai Akademisi dan Pegiat Budaya, Vianus Jebarus (Inji Bomatra) sebagai Konten Kreator dan Youtuber dan Veliks Hatam sebagai Host. (*)