“Kita wajib mengisi kemerdekaan ini dgn hal- kecil. Salah satunya dgn mendukung literasi digital yg sedang pemerintah ataunkominfo gerakan. Di media sosial saat ini proporsi konten yg bernuansa positif dan edukatif masih sangat kurang. Mari mulai ramaikan media sosial kita dengan konten-konten postif dan edukatif. Sehingga rasa nasionalisme dalam kebinekaan kita tetap terawat dan semakin berkembang,” tutupnya.

Narasumber lainnya, Fransiskus Nendi menjelaskan, literasi digital dilihat sebagai dua hal yakni peluang dan tantangan. Adapun peluang yang dimaksud adalah lahirnya lapangan kerja baru berbasis media digital, dan pengembangan
kemampuan literasi tanp menggunakan teks berbasis cetak. Media digital kata dia bisa memberikan peluang, seperti meningkatnya peluang bisnis e-commerce.

“Tantangannya adalah menghabiskan Waktu untuk berinternet bahkan rata-rata 5 Jam setiap hari. Data akses anak Indonesia terhadap konten berbau pornografi per hari rata-rata mencapai 25 ribu orang,” katanya.

Dosen di UNIKA St. Paulus Ruteng itu mengatakan, informasi terkadang justru menjauhkan orang dari pengetahuan dan kebijaksanaan. Banjirnya informasi membuat orang jadi bingung dan justru malas berpikir.