Meskipun angka pengguna internet setiap tahun mengalami peningkatan tapi dampaknya pada masyarakat terutama anak muda belum optimal.
“Kita dinilai masih memiliki tingkat literasi digital yang rendah. Bahkan survey (Chadha, 2017) menyebutkkan bahwa masyarakat Indonesia memiliki kecenderungan untuk memanfaatkan YouTube sebagai salah satu media informasi mereka. Berkaca dari tren YouTube di Indonesia, saya melihat bahwa masih tersedia pasar yang cukup besar terkait konten pendidikan, Budaya, kesehatan, pertanian, aneka tutorial, hiburan, musik di Indonesia,” tutur Dosen Prodi Keperawatan itu.
Tidak hanya itu ia juga kemudian memita generasi muda untuk segera memulai dan terlibat dalam meningkatkan pengaruh literasi digital yang positif. Generasi muda mesti tentukan sumbangsi apa yang akan diberikan untuk negara Indonesia.
Tindakan itu kata dia, mulailah dari hal-hal kecil, yang mungkin akan berdampak besar misalnya dengan membuat vidio bertemakan pendidikan, Budaya, kesehatan, pertanian, aneka tutorial, hiburan, musik dan lain sebagainya. Selain memberikan informasi baru bagi masyarakat, juga meningkatkan jumlah konten positif menangkal konten negatif.
“Kita wajib mengisi kemerdekaan ini dgn hal- kecil. Salah satunya dgn mendukung literasi digital yg sedang pemerintah ataunkominfo gerakan. Di media sosial saat ini proporsi konten yg bernuansa positif dan edukatif masih sangat kurang. Mari mulai ramaikan media sosial kita dengan konten-konten postif dan edukatif. Sehingga rasa nasionalisme dalam kebinekaan kita tetap terawat dan semakin berkembang,” tutupnya.
Narasumber lainnya, Fransiskus Nendi menjelaskan, literasi digital dilihat sebagai dua hal yakni peluang dan tantangan. Adapun peluang yang dimaksud adalah lahirnya lapangan kerja baru berbasis media digital, dan pengembangan
kemampuan literasi tanp menggunakan teks berbasis cetak. Media digital kata dia bisa memberikan peluang, seperti meningkatnya peluang bisnis e-commerce.
“Tantangannya adalah menghabiskan Waktu untuk berinternet bahkan rata-rata 5 Jam setiap hari. Data akses anak Indonesia terhadap konten berbau pornografi per hari rata-rata mencapai 25 ribu orang,” katanya.









Tinggalkan Balasan