“Menurut saya tidak perlu dilihat sebagai salah satu yang negatif, itu biasa saja. Kalau kita mau runut ke belakang budaya Manggarai 300-400 tahun seperti apa? Apa yang asli itu hanya konvensi dari pendukung budaya itu untuk jangka waktu tertentu, dan untuk jangka waktu lain dia harus berubah. Budaya yang melayani manusia. Manusia berubah dan zaman berubah tentu budaya juga bisa direinterpretasi dan rekonstruksi cara lain. Budaya dan kaum muda memiliki keterkaitan, tentu saja untuk melestarikan budaya itu. Lebih baik menjadi tuan kecil atas budaya sendiri daripada menjadi tuan besar bagi budaya orang di wilayah sendiri, dan menjadi budak pada wilayah orang. Mari menjadi aktor, dengan menari anda membuat roh-roh leluhur lupa minta ayam, babi, kambing, kerbau yang membuat anda pusing,” tutupnya.
Dalam pantauan wartawan, turut hadir memeriahkan pertunjukan itu, Ronny Friends, Komunitas Saeh Go Lino, serta Penari Tarian Daerah “Awit Te Sae”, dengan jumlah peserta yang hadir lebih dari 300 peserta. (*)



Tinggalkan Balasan