Kemudian pada kesempatan yang sama, Direktur Tata Kelola dan Kemitraan Komunikasi Publik, Hasyim Gautama dalam sambutannya menyampaikan bahwa di tengah kondisi pandemi peranan dari teknologi informasi menjadi sangat sentral.
“Kita dimasa pandemi dibatasi berinteraksi secara fisik apalagi berinteraksi secara ekonomi. Bukan berarti dengan pembatasan fisik seperti ini kita lalu tidak berbuat apa-apa. Dengan acara-acara seperti ini diharapkan kita semua bisa menjalankan kegiatan ekonomi kita dengan cara yang lain, inovasi-inovasi dengan cara yang lain, dan inovasi seperti ini oleh Kementerian Kominfo dijalankan dengan promosi dan literasi digital untuk bisa meluaskan wawasan kita dalam penggunaan internet agar kita bisa manfaatkan untuk berinteraksi dengan orang lain. Terkait dengan acara seperti ini, kita mendorong semua pihak untuk bisa marketing digital, mungkin dengan cara membuat konten-konten promosi seperti konten promosi pariwisata pantai atau desa yang indah sehingga publik tahu tentang keindahan alam dan budaya yang kita punya. Untuk orang muda bisa dengan membuat konten-konten kreatif, mungkin melalui marketplace untuk memasarkan produk-produk yang ada. Kemenkominfo tentu mendukung dengan infrastrukturnya sehingga konek dengan skill yang dipunyai,” tutupnya.
Sementara itu, pemateri Yohanes Jehabut kepada peserta yang hadir via online maupun offline menekankan pada membangun citra dengan riset dan interpretasi. Dirinya fokus menjelaskan tentang perkembangan internet di dunia.
“Sesungguhnya dunia seperti apa yang kita hadapi saat ini sehingga kita harus benar-benar serius mengurus hal-hal terkait dunia digital. Kita lihat pada tahun 2020 dari populasi manusia di dunia sebanyak 7,7 miliar itu ada 5 miliar lebih pengguna ponsel. Dari 5 miliar lebih itu ada 4,5 miliar lebih adalah pengguna internet. Lalu, dari 4,5 miliar lebih pengguna internet secara spesifik ada 3,8 miliar orang yang menggunakan media sosial. Bahkan dibandingkan dengan secara keseluruhan populasi kita, sesungguhnya pengguna media sosial kita lebih dari 50% dari total populasi kita. Itulah yang kita hadapi saat ini. Kalau kita mengabaikan media sosial termasuk hoaks itu salah besar, karna mempengaruhi 70% populasi produktif kita. Sehingga apa yang kita tulis di media sosial sangat berimplikasi serius terhadap kehidupan kita,” jabar pria penyuka fotografi itu.







Tinggalkan Balasan