RD. Ino menyampaikan, gereja mengambil bagian dalam peringatan hari pariwisata sedunia, karena gereja secara internal mempertemukan orang-orang Katolik, dan gereja menjamin dialog internal dengan orang Katolik.
“Jadi bisa saja orang-orang Katolik di dunia datang di Flores ini. Artinya jaringan gereja ya, dan ini juga bisa memperkokoh iman kita,” ucapnya.
Kata RD. Ino, secara eksternal kita melihat bahwa pariwisata adalah perjumpaan dengan manusia tanpa batas tanpa kelas, dengan agama apa saja, dari mana saja di dunia.
“Dengan itu setiap destinasi wisata harus selalu menjadi rumah bhinneka tunggal Ika. Satu dalam banyak, banyak dalam satu. Ini visi gereja universalitas kemanusiaan,” ujaranya.
Dijelaskannya, jika dunia alam semesta ini harus yang diciptakan oleh satu Tuhan, maka itu adalah instrumen real yang mempersatukan manusia yang ada di dunia ini.
“Salah satu instrumen real global yang dapat mempertemukan semua orang adalah pariwisata. Dengan begitu manusia berjumpa budayanya, juga berjumpa komunitasnya, berjumpa agamanya, tanpa ada inter kulturalitas, multikulturalitas, inter religius, dan inter komunitas,” tutur RD. Ino.



Tinggalkan Balasan