“Akan dapat tercapai jika masing-masing pihak yang berbeda, mampu mengesampingkan ego dan fanatisme agamanya, dan sebaliknya mengedepankan nilai-nilai agama dalam perspektif humanis yang universal,” terangnya.

Dia menyebut, tantangan hidup kedepan sebagai bangsa, khususnya umat beragama di Indonesia untuk pertebal keimanan terhadap Tuhan, dan mengantisipasi adanya dampak negatif globalisasi, kemajuan ilmu dan teknologi, serta perubahan sikap dan gaya hidup masyarakat, khususnya kalangan muda-mudi Kristiani.

“Sehingga, pemerintah sangat mengharapkan terbinanya hubungan kemitraan yang sinergis dengan seluruh lembaga keagamaan termasuk GKII, agar lebih meningkatkan peran dan fungsinya untuk sejahterakan kehidupan masyarakat sebagai wujud ibadah kepada Tuhan dan pengabdian kepada bangsa dan negara serta masyarakat pada umumnya,” harap Nae Soi.

Setiap agama, kata dia, memiliki nilai universal (kemanusiaan, cinta kasih, kedamaian, toleransi, kerukunan, red) yang dapat mengikat semua orang melalui suku, bangsa, bahasa, budaya dan geografi serta tingkat sosial ekonomi dan pendidikan. Sehingga tidak ada alasan orang berbeda agama, tidak bisa rukun dan menyatupadukan kekuatan untuk bekerja sama membangun masyarakat, bangsa dan negaranya.