“Selama masa pandemi COVID-19, saya tetap jualan, meski itu sulit, tetapi mau bagaimana. Biar untung Rp1000-5000 rupiah tetapi dapat menutup kebutuhan keluarga. Dari pendapatan yang saya jualan di luar gaji, sekitar Rp200-500 ribu rupiah perbulan, kalau tidak sepi,” ucapnya.

Dia menambahkan, dirinya telah memiliki pendamping hidup, Yohana Osi (25), dan dikaruniai seorang anak, Elfa (1). Namun hingga kini, istrinya belum memiliki pekerjaan tetap, sehingga dirinya membuka sebuah usaha penjualan sembako, untuk dikelolah isterinya.

“Usaha itu dibangun diatas lahan milik orang, tetapi sudah atas persetujan dan izin dari desa setempat. Istri saya dipercaya juga untuk bantu menjaga warung kopi yang berada di sekitar lokasi,” jelas Lazarus.

Ia berharap kepada para generasi muda untuk terus berusaha dan bekerja keras tanpa mengenal gengsi, demi mencapai kesuksesan di masa depan.

“Saya juga punya harapan besar bagi kaum muda, jangan pernah gengsi untuk mulai berwirausaha, meskipun seperti saya yang jualan ke pasar ataupun ke kampung. Semoga pemerintah bisa melihat kami dan perhatikan khususnya dalam persoalan gaji tenaga guru honorer,” tandasnya.

Lazarus Agun merupakan alumi Universitas Kanjuruhan Malang, Program Studi (Prodi) IPA (Fisika Terapan). Sementara istrinya Yohana Osi merupakan lulusan Sarjana Ilmu Geografi.

Usai menyelesaikan studinya di Universitas Kanjuruhan Malang pada tahun 2018 lalu, Lazarus sempat merantau ke Kalimantan, sebelum memutuskan pulang kampung untuk bekerja membangun daerahnya.

Seiring berjalannya waktu, Lazarus kenudian mendapat informasi terkait penerimaan lowongan kerja di salah satu sekolah di Manggarai, sehingga Lazarus menyempatkan diri untuk memasukan lamaran kerjanya.

“Pas tahun ini saya dapat informasi bahwa ada sekolah baru di sekitar wilayah Satar Mese Barat yaitu SMKN 1, saya sempat kasih masuk lamaran. Puji Tuhan saya dapat rezeki dipanggil dari SMKN 1 itu,” jelasnya. (*)