Menurut Elcid, dirinya tidak sedang menantang rektor Undana untuk berkelahi secara fisik. Namun hanya meminta agar perdebatan dilakukan secara ilmiah dan akademik saat pembahasan rencana pemindahan laboratorium.

“Ini ada ide, ada gagasan, tidak dalam konteks perkelahian fisik. Tidak ada niat untuk menantang rektor Undana berklahi secara fisik, tapi menunggu rektor Undana Fred Benu untuk berdebat secara ilmiah,” jelasnya.

Dia menjelaskan, keputusan yang diambil rektor Undana untuk menutup laboratorium tidak sepenuhnya didukung oleh semua civitas akademik Undana Kupang. Bahkan laboran yang bekerja di laboratorium merupakan alumni Undana Kupang.

Ia menuturkan, gestur perdebatan orang NTT dengan hal seperti ini merupakan hal yang biasa. Ia menyebut tidak ada catatan kriminal dan hukum dari dirinya.

“Saya pantang arogansi kebrutlalan kekuasaan demi pelayanan gratis demi warga negara disaat pandemi, tanpa kompromi,” tegas Elcid.

Hadirnya laboratorium, kata dia, telah memberi dampak baik bagi masyarakat yang sulit untuk mendapat layanan PCR. Keberpihakan yang dilakukan hanya semata untuk keselamatan masyarakat dan bukan untuk orang lain.