Salah satu tantangan terbesar bagi kita adalah berdialog dengan diri sendiri tentang Tuhan yang kita imani bahkan beriman dalam diri sendiri tentang Tuhan yang kita imani. Mengapa? Kita masih berada pada posisi melihat segala sesuatu dalam takaran yang sangat duniawi. Bukan tidak mungkin para murid yang memilih mundur juga karena hanya memahami Tubuh dan Darah Kristus sebatas dalam kacamata duniawi.
Semoga kita dapat belajar bahwa mengimani Tuhan tidak ‘mentok’ pada pola pikir yang materialis tapi seharusnya berkembang ke takaran rohaniah agar tidam terjebak dalam pola pikir sesat tentang Tuhan. Pada titik inilah memang benar ‘imanlah yang menolong budi’ karena indra kita tidak cukup untuk bisa memahami semua. (*)





Tinggalkan Balasan