“Setelah mendapat ijin operasional, awalnya jumlah anak hanya 34. Tahun 2021 ini, jumlah mereka terus bertambah hingga 81 orang. Dan mereka berasal dari latar belakang keluarga yang berbeda. Ada yatim piatu, terlantar dan orang tua yang tidak mampu mengurus mereka,” jelas Yunus Labba.
Meningkatnya jumlah anak tidak membuat Yunus Labba hilang akal untuk mengurus mereka. Meski biaya operasional Panti Asuhan mencapai angka Rp25-30 juta setiap bulan. Karena dirinya percaya bahwa, apa yang dilakukan merupakan sebuah pelayanan terhadap sesama.
“Karena saya sangat percaya bahwa Tuhan pasti menolong dengan caranya. Di tengah pandemi COVID, saya merasa benar-benar tergoncang, karena harus memenuhi kebutuhan makan dan minum, serta kebutuhan lainnya. Tetapi banyak saudara kita yang membantu mereka,” ucapnya.
Untuk bertahaan dan mencukupi kebutuhan anak asuhnya, Yunus Labba membuat sebuah sawah, yang digunakan untuk menanam beras, karena mengingat banyaknya jumlah anak asuhnya di Panti Asuhan.
“Jadi kami buat sawah, karena jumlah kita banyak. Akhirnya saya dapat sawah dan menanam di sana. Hasil yang kami panen mencapai 70 blek, dan itu sedikit menopang kami selama masa pandemi COVID-19,” kisah Yunus Labba.



Tinggalkan Balasan