Yunus mengisahkan, perjalanan panjang dan suka duka membangun Panti Asuhan akhirnya terwujud usai ijin operasionalnya dikeluarkan oleh Dinas Sosial (Dinsos) Kota Kupang pada tahun 2018 lalu.
“Setelah mendapat ijin operasional, awalnya jumlah anak hanya 34. Tahun 2021 ini, jumlah mereka terus bertambah hingga 81 orang. Dan mereka berasal dari latar belakang keluarga yang berbeda. Ada yatim piatu, terlantar dan orang tua yang tidak mampu mengurus mereka,” jelas Yunus Labba.
Meningkatnya jumlah anak tidak membuat Yunus Labba hilang akal untuk mengurus mereka. Meski biaya operasional Panti Asuhan mencapai angka Rp25-30 juta setiap bulan. Karena dirinya percaya bahwa, apa yang dilakukan merupakan sebuah pelayanan terhadap sesama.
“Karena saya sangat percaya bahwa Tuhan pasti menolong dengan caranya. Di tengah pandemi COVID, saya merasa benar-benar tergoncang, karena harus memenuhi kebutuhan makan dan minum, serta kebutuhan lainnya. Tetapi banyak saudara kita yang membantu mereka,” ucapnya.
Untuk bertahaan dan mencukupi kebutuhan anak asuhnya, Yunus Labba membuat sebuah sawah, yang digunakan untuk menanam beras, karena mengingat banyaknya jumlah anak asuhnya di Panti Asuhan.
“Jadi kami buat sawah, karena jumlah kita banyak. Akhirnya saya dapat sawah dan menanam di sana. Hasil yang kami panen mencapai 70 blek, dan itu sedikit menopang kami selama masa pandemi COVID-19,” kisah Yunus Labba.
Pengorbananya tidak sampai di situ. Yunus Labba juga menyekolahkan anak asunya mulai dari Paud, Sekolah Dasar (SD), SMP, SMA, hingga ke Perguruan Tinggi.
“Jumlah mereka 81 orang. 36 anak sudah kuliah, sementara sisanya masih duduk di bangku Paud, SD, SMP dan SMA,” terangnya.
Untuk menunjang proses belajar siswa di tengah pandemi, dirinya telah memasang dua unit Wifi, sehingga ketika mengikuti pelajaran secara daring, anak asuhnya tidak mengalami kendala.
“Karena belajar masih online, saya pasang Wifi dua. Ini memang cukup berat, tetapi merupakan pelayanan, dan saya percaya bahwa cara Tuhan pasti menonong saya,” ujarnya.







Tinggalkan Balasan