Menurutnya, kegaduhan di ruang DPRD Kabupaten Sikka merupakan sebuah insiden yang sama sekali tidak diharapkan. Namun terjadi secara spontanitas, karena kecewa terhadap tindakan pimpinan DPRD Sikka.

“Saya kecewa karena istri saya juga merupakan tenaga keaehatan yang terpapar COVID-19, karena di Puskesmas Beru, para nakes tidak dibekali Alat Pelindung Diri (APD). Saya belum berpendapat, David sudah ketuk palu. Sebagai suami Nakes, siapa yang tidak marah,” tegas Cinde.

Menurutnya, pernyataan anggota DPRD dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) beberapa waktu lalu sangat menyinggung perasaan para Nakes. Seharusnya dalam forum tersebut, DRPD secara terbuka menyampaikan, sehingga para Nakes bisa puas hati, karena mereka telah bekerja sepenuh hati.

“Kondisi rapat saya lihat tidak jelas arah dalam dinamika sidang. Kemudian muncul sebuah perasaan spontanitas, tiba-tiba terjadi seperti itu, insiden yang sebenarnya sama sekali tidak diharapkan,” ungkap Sinde.

Dengan demikian, secara pribadi, melalui Ketua Fraksi Partai PAN sekaligus Ketua Partai, Fransiskus Cinde menyampaikan pemohonan maaf kepada Lembaga DPRD. Karena perbuatannya, lembaga DPRD mendapat penilaian buruk dari masyarakat.

“Saya juga minta maaf kepada seluruh masyarakat Kabupaten Sikka. Sehingga pada sisa waktu ini, saya bisa bersama dengan Anggota DPRD dari Fraksi PAN bisa menjalankan tugas secara baik di lembaga DPRD ini,” tandasnya.

Diberitakan sebelumnya, perwakilan Tenaga Kesehatan menyampaikan pernyataan sikap di Gedung DPRD Kabupaten Sikka, Senin 12 Juli 2021 lalu.

Usai menyampaikan pernyataan sikap, para nakes dipersilakan untuk berdialog bersama anggota DPRD, di dalam ruang rapat.

Di penghujung dialog, terjadi kericuhan usai Ketua DPRD Sikka, Donatus David mengakhiri RDP, namun belum ada kesimpulan akhir antara DPRD dan perwakilan nakes dari 16 organisasi.

Keputusan Ketua DPRD mengakhiri sidang membuat anggota DPRD fraksi Partai PAN, Fransiskus Sinde geram, karena dirinya belum menyampaikan pendapat dalam rapat tersebut.