Setidaknya ada 3 pelaku UMKM yang menggunakan QRIS Bank NTT untuk bertransaksi di Lopo Di@ Bisa Bank NTT Kelurahan Manutapen. Sedangkan pelaku UMKM lainnya sedang berproses, agar dapat menggunakan QRIS Bank NTT dalam transaksi pembayaran.

Wanita berdarah Sabu Raijua ini menyatakan, QRIS Bank NTT lebih mudah digunakan dan sangat efektif mengurangi penyebaran COVID-19. Di samping itu, QRIS Bank NTT mengurangi resiko pencurian, karena setelah bertransaksi, uang langsung tersimpan secara otomatis di rekening.

“Lebih mudah, karena bayar hanya lewat Handphone tanpa harus pegang uang. Pelanggan yang menggunakan QRIS Bank NTT kebanyakan pegawai bank. Sementara masyarakat yang menggunakan QRIS Bank NTT jumlahnya masih sedikit,” ucap Mariam.

Mendapat fasilitas Lopo Di@ Bisa Bank NTT untuk berbisnis, tidak membuat Mariam besar kepala. Dia tetap bersyukur kepada Tuhan dan bekerja keras, seraya mengucapkan terima kasih kepada Bank NTT, yang telah membantu dirinya dan para pelaku UMKM di Kelurahan Manutapen.

“Semoga hubungan kerja sama dengan Bank NTT tidak sampai pada hari ini saja. Tetapi tetap terjalin dan terus berlanjut ke depan,” tutur Mariam.

Pemberdayaan UMKM di NTT menjadi salah satu program strategis yang sedang dilaksanakan oleh Bank NTT, untuk mewujudkan misi Gubernur Viktor Bungtilu Laiskodat, dan Wakil Gubernur Josef Nae Soi, yaitu ‘NTT Bangkit, NTT Sejahtera’. Saat ini terdapat 45 Lopo Di@ Bisa Bank NTT yang tersebar di 22 Kabupaten/Kota di Provinsi NTT.

Kehadiran Lopo Di@ Bisa diharapkan menjadi penggerak ekonomi Desa, dan wadah pemberdayaan pelaku UMKM yang ada di seluruh NTT. Selain Lopo Di@ Bisa, Bank NTT juga hadir bersama Otoritas Jasa Keuangan (OJK) memberikan bantuan modal berupa Kredit Merdeka kepada para pelaku UMKM.

Kredit Merdeka adalah produk yang diluncurkan oleh Bank NTT untuk memberdayakan pengusaha yang selama ini bergerak dalam bidang UMKM. Skema kredit ini juga merupakan upaya Bank NTT untuk mempercepat pembangunan dan pertumbuhan serta pemulihan ekonomi NTT, pasca dilanda COVID-19.