“Tentu kami seluruh jemaat sangat membutuhkan perhatian dan respon cepat dari Pemerintah Kabupaten Kupang,” pungkas Eben.
Sementara Pendeta Gereja Sion Oeli’i, Yeni Tuhaheo, yang mewakili seluruh jemaat mengatakan, pihaknya sangat bersyukur dan bersukacita, karena masih banyak orang baik yang mau peduli dan membatu pembngunan gereja.
“Kami berayukur dan berterima kasih kepada Tuhan, kalau bukan Tuhan, tidak mungkin hari ini kita bersama untuk beribadat dan memulai peletakan batu pertama,” jelas Pendeta Yeni.
Dia menjelaskan, pasca ambruknya gedung Gereja Sion Oeli’i, pihknya bersama 178 jemaat harus menjalani ibadat dan kebaktian di salah satu gedung sekolah Desa Oenaek.
Namun, kata dia, gedung sekolah yang digunakan sebagai tempat ibadat hanya bertahan selama dua minggu, karena para siswa harus menggunakan gedung untuk mengikuti Ujian Akhir Nasional (UAN)
“Selanjutnya, ada jemaat yang memberikan lahan kosongnya untuk membangun tenda darurat sebagai tempat ibadat kami. Dan sampai sekarang masih ibadat disitu,” ucapnya.



Tinggalkan Balasan