Kebudayaan Manggarai dipahami sebagai segala system gagasan, tindakan dan hasil karya manusia dalam masyarakat Manggarai. Ia menyata pada wujud berupa ide, gagasan, nilai, norma, peraturan, aktivitas dan tindakan, dan benda-benda hasil karya masyarakat Manggarai. Dalam Bahasa J.J. Honingman melalui bukunya The World of Man (1959) wujud kebudayaan ada dalam ide (ideas), tindakan (activities) dan karya (artefacts).
Apa yang menjadi komitmen DKM memberikan secercah harapan bagi peradaban. DKM akan menjadi inisiator bagi kegairahan baru di kalangan pencinta dan peneliti bahasa, sastra dan tradisi lisan Manggarai. Ia menjadi rumah bagi para seniman yang selama ini berjuang sendiri-sendiri. Ia merangkul para pelaku pendidikan untuk membangun pendidikan karakter dengan muatan lokal yang merujuk pada kearifan lokal Manggarai. Ia menjadi perekat komitmen bagi agama-agama yang ada di Manggarai untuk membudayakan pengenaan busana berbahan tenunan ke gereja, masjid, pura, wihara. Selendang songke dipakai saat membawakan tarian persembahan. Kopiah songke dikenakan saat bersembayang. Kain songke dipakai sebagai sarung doa. Lagu-lagu dengan musik, syair dan tari-tarian Manggarai menjadi pilihan utama masyarakat untuk berbagai acara. Ia menjadi pemicu bagi pegiat seni fotografi, animasi dan perfileman untuk bercerita tentang Manggarai dengan keindahan budayanya kepada dunia internasional. Demikian permainan dan atraksi-atraksi budaya menjadi ikon kejayaan karya ciptaan yang mengagumkan.
DKM menjadi penggerak kemajuan budaya, penjaga nilai dan karakter. Ia memberi kontribusi bagi penciptaan kebijakan pembangunan berbasis pariwisata budaya dan religi. Dengan itu, ia berposisi membangun peradaban yang senantiasa lahir dari rahim kebudayaan Manggarai. Inilah secercah harapan yang diletakkan di pundak Dewan ini. Harapan yang tak mustahil karena sudah dimulai dengan langkah pertama: pembentukkan. Selamat bekerja!***







Tinggalkan Balasan