Di TTS jika orang sudah menjadi pemimpin, maka ia berubah menjadi arogan. Ia merasa lebih tinggi daripada orang-orang yang ia pimpin. Ia seolah lupa akan tugasnya untuk melayani masyarakat yang ia pimpin. Ia pun berubah menjadi penindas yang memikirkan semata keuntungan dan kejayaan pribadinya.

Untuk itu, TTS butuh pemimpin yang tidak angkuh (sombong) serta mampu mengayomi, dan bukan yang membuat diri seperti raja kecil ketika turun ke desa. Pemimpin yang betul-betul menyadari bahwa dia adalah bagian dari masyarakat, dan bukan diutus langsung dari langit. Ini penting karna seringkali kita bisa melihat beberapa pemimpin di level desa, kecamatan, SKPD dan pimpinan daerah yang memiliki karakteristik ingin menang sendiri, tidak mau mendengarkan masukan dan kritik.

Pemimpin seperti itu biasanya melihat kelompok “minoritas kritis” sebagai pembangkang, dan bukan sebagai kekuatan penyeimbang.

Pemimpin yang Fleksibel

Salah satu tanda nyata dari sikap terbuka adalah fleksibilitas. Seorang pemimpin harus memastikan, bahwa birokrasi dari organisasi yang ia pimpin tetap fleksibel untuk berbagai “perkecualian yang masuk akal”. Prinsip yang ia harus pegang adalah; birokrasi ada untuk melayani manusia, dan bukan manusia dibuat repot untuk melayani birokrasi yang tanpa makna.

Di TTS banyak birokrasi organisasi justru membuat repot banyak orang. Mereka tercekik oleh berbagai persyaratan yang tak masuk akal. Walaupun pemimpinnya hebat namun bila birokrasinya justru mencekik orang, maka semuanya jadi terasa percuma. Tujuan organisasi
pun akhirnya menjadi tak terlaksana. Maka sekali perlu ditegaskan, bahwa birokrasi ada untuk melayani manusia.

Para pemimpin di TTS perlu untuk memastikan, bahwa hal inilah yang terjadi, bukan sebaliknya. Birokrasi perlu untuk mencapai standar kemasukakalan, dan tak boleh terjebak pada pola berpikir “karena peraturannya begitu”.

Keberhasilan dan Karya Kita

Semua hal di atas akan membawa organisasi menghasilkan karya yang bermutu, baik itu karya material, pengetahuan, maupun jasa.