“Saya sungguh mersakan denyut nadi perjuangan orang-orang di kampung, teristimewah buat kedua orang tua. Saya sematakan predikat purna kepada orang tua saya dalam semua aspek. Mereka tangguh, militan dan sabar,” kisah Simon Nahak.

Dia menjelaskan, setiap pekan, ayahnya selalu mendatangi sejumlah pasar di wilayah Malaka, Belu, Kabupaten TTU dan TTS untuk menjajahkan tembakau, kain tenun, ayam, serta komoditi pertanian lainnya.

“Mereka sangat kompak dalam membangun rumah tangga. Ibu mengurus saya dan adik-adik sambil menenun. Sedangkan Ayah papalele dari satu pasar ke pasar yang lain,” ungkap Simon.

Dalam rumah, Simon dipanggil dengan sebutan Ulu yang berarti anak sulung. Sebutan itu mengemban tanggung jawab yang tidak kecil. Sehingga Simon selalu tunjukan sebagai sulung terbaik kepada sembilan orang adiknya dengan cara belajar tekun.

“Karena itu selalu memotivasi saya untuk terus belajar, memompa semangat dan mimpi saya untuk menjadi yang terbaik. Hasilnya sekarang sudah dipetik,” jelasnya.