“Saya sungguh mersakan denyut nadi perjuangan orang-orang di kampung, teristimewah buat kedua orang tua. Saya sematakan predikat purna kepada orang tua saya dalam semua aspek. Mereka tangguh, militan dan sabar,” kisah Simon Nahak.
Dia menjelaskan, setiap pekan, ayahnya selalu mendatangi sejumlah pasar di wilayah Malaka, Belu, Kabupaten TTU dan TTS untuk menjajahkan tembakau, kain tenun, ayam, serta komoditi pertanian lainnya.
“Mereka sangat kompak dalam membangun rumah tangga. Ibu mengurus saya dan adik-adik sambil menenun. Sedangkan Ayah papalele dari satu pasar ke pasar yang lain,” ungkap Simon.
Dalam rumah, Simon dipanggil dengan sebutan Ulu yang berarti anak sulung. Sebutan itu mengemban tanggung jawab yang tidak kecil. Sehingga Simon selalu tunjukan sebagai sulung terbaik kepada sembilan orang adiknya dengan cara belajar tekun.
“Karena itu selalu memotivasi saya untuk terus belajar, memompa semangat dan mimpi saya untuk menjadi yang terbaik. Hasilnya sekarang sudah dipetik,” jelasnya.
Dia dikenal sebagai orang yang panadi, pemberani, memiliki jiwa sosial yang tinggi, suka membantu dan sangat menyayangi kedua orang tuanya.
“Mama dan Bapa, mereka harus dibantu. Karena saya tidak tega melihat mereka bekerja sendirian. Saya sangat menyenangi orangtua saya karena telah melahirkan, membesarkan dan menyekolahkan saya,” tandasnya.
Kerendahan hati merupakan ciri khas yang melekat pada calon profesor ini. Ia memang anak petani tembakau dan perajin tenun yang sukses dalam meniti karier.
Kisah Sekolah
Setelah tamat dari Sekolah Dasar (SD) Weoe tahun 1977, Simon Nahak belum sempat melanjutkan pendidikan ke jenjang SMP, karena harus membantu kedua orang tuanya du ladang untuk memelihara ternak dan mengurus adik-adiknya.
Tahun 1981, Simon Nahak akhirnya mendaftarkan diri sebagai siswa di SMP Santo Fransiakus Xaverius di Kota Kefamenanu, Kabupaten TTU, dan menyelesaikan studinya pada tahun 1984.
Usai menyelesaikan studinya di SMP, Simon Nahak kemudian melanjutkan sekolahnya ke SMA Giovani Kupang, yang merupakan lembaga pendidikan cukup bergengsi dibawa asuhan para imam katolik.







Tinggalkan Balasan