Tentu saja, harapan agar pendidikan tidak hanya berkaitan dengan soal-soal teoritis melainkan berhubungan praksis hidup yang bermakna, akan selalu memperjuangkan kehidupan yang konstan.

Namun kita pun percaya bahwa masa depan dimulai dengan sikap kritis pada masa ini, seperti  refleksi penulis dalam memperingati Hari Pendidikan Nasional 2 Mei 2021.

‘Aku percaya bahwa pendidikan bermaksud mencerdaskan manusia secara penuh hingga ia mencapai keselarasan baru dengan sesamanya dan dengan alam semesta’. (Erich Fromm)

Pada ahkirnya, walau memiliki potret yang buram, dan walau sekolah sering menjadi medan indoktrinisasi teoritis ketimbang medan persiapan menuju hidup yang bermakna, namun dalam sejarahnya pendidikan tetap menjadi “Harapan” bagi upaya “Pembangunan warisan terbaik seluruh umat manusia” dan “Pengembangan daya manusia secara penuh”.

Harapan bukanlah. Harapan lebih merupakan sebuah kerendahan hati yang aktif, dengan sikap mawas diri yang sadar bahwa biar praktek pendidikan carut marut dan kacau, toh kita boleh terus berpaling padanya, dengan refleksi yang kritis dan dengan kemauan dan usaha gigih untuk terus berbenah.

Dunia pendidkan menjadi titik sentral kehidupan umat manusia di zaman modern dan kontemporer saat ini. Riwayat dan sejarah hidup manusia akan berakhir, tanpa kenangan.

Namun dari pendidikan belum sempurna menampilkan esensinya dalam mencerdaskan kehidupan manusia untuk mencapai tujuan hidupnya.

Kehidupan manusia hanya dapat berkembang seiring pertumbuhan pendidikan manusia. Warna kehidupan nampak jelas saat manusia mampu mengaktualisasikan semua potensi dalam lingkup kecerdasan yang dimilikinya. Tanpa kecerdasan intelek, emosi, spiritual maanusia tidak berdaya apa-apa dihadapan laju arus kehidupan dunia.

***