Pendidikan pada hakikatnya meningkatkan kualitas para pelajar sebagai makhluk serta memiliki kepribadian yang baik. Ideal pendidikan Indonesia hanya bisa terealisasi bila adanya kesadaran kritis.

Kesadaran ini menjadikan kita ‘menukik lebih dalam’ pada belbagai masalah pendidikan agar sejalan dengan tujuan dan hakikat pendidikan nasional. Jika demikian, pendidikan tidak serta merta sebagai lahan empuk bagi ekonomisasi pendidikan tetapi sebagai suluh yang menerangi bangsa dalam dan keluar dari belbagai tantangan kebangsaan.

Pendidikan: Mencerdaskan Kehidupan Bangsa

Ada tiga ideal pendidikan yang bisa dibedakan, namun tidak dapat dipisahkan.

Pertama, pendidikan dipahami sebagai upaya membuat manusia jadi cerdas.

Kedua, pendidikan sebagai sarana sosialisasi dan internalisasi nilai dan makna dalam masyarakat. Dengan pendidikan, manusia diajar tentang adat istiadat dan budaya masyarakatnya, agar dapat hidup secara ‘beradab’, sesuai dengan tata nilai dan makna yang berlaku dalam konteks kebudayaan tersebut. 

Ketiga, pendidikan sebagai sarana menciptakan manusia yang dapat berpikir dan yang hidup berdasarkan pertimbangan dan keputusan bebasnya sendiri.  Dengan pendidikan, manusia dilatih untuk mempertanggungjawabkan dirinya sendiri, mempertanggungjawabkan seluruh perbuatannya, serta didorong untuk mencari hal-hal baru yang belum diketahuinya.

Pendidikan dalam arti ini, berpuncak pada pertanyaan mendasar tentang seluruh makna kehidupannya, yang berhubungan dengan pencariannya akan tujuan terakhir hidupnya yaitu Tuhan sendiri.

Namun, kita juga tahu bahwa seakan terdapat tembok tinggi yang sulit dipugar antara ideal dan praksis pendidikan.

Dunia pendidikan saat ini ditantang secara hebat oleh budaya massa, budaya konsumsi yang disebabkan perkembangan kapitalisme global, budaya bujuk rayu dan seduksi yang ditawarkan oleh teknologi, budaya instan, pengaruh perkembangan internet dan alat-alat yang mempermudah kerja manusia, yang semuanya memiliki aspek positif tertentu namun menimnulkan kelemahan jiwa.