Ia mengatakan, setiap pasien yang ada ruangan isolasi dijaga oleh keluarga satu orang, tanpa menggunakan alat pilindung diri. Kemudian masih menurut Umi, yang merawat pasien itu bukan perawat, tetapi keluarga sendiri. Para perawat hanya datang pada saat jam penyuntikan.
“Dari hasil pertemuan dengan pihak rumah sakit, kami baru tahu ternyata petugas yang mengurus jenazah tidak ada yang beragama Islam,” jelasnya.
Umi bahkan menuding pihak Rumah Sakit Umum Daerah Ende melakukan pembohongan dengan mengatakan bahwa jenazah suaminya MNS telah dimandikan.
“Saya mau jujur mengatakan bahwa jika pihak rumah sakit mengatakan bahwa jenazah dimandikan, itu omong kosong banyak. Saya yang melihat dan menyaksikan sendiri peristiwa tersebut. Ketika ditanya kenapa tidak dimandikan, kata petugas sudah dikasi alkohol,” tutur Umi.
Dengan peristiwa yang dialami bersama suami dan keluarganya, ia berharap kepada pihak RSUD Ende, agar pasien-pasien yang lain tidak lagi diperlakukan seperti itu.
Direktris RSUD Ende, Aries Dwi Lestari, belum berhasil dikonfirmasi media ini terkait pengeluhan pihak keluarga.





Tinggalkan Balasan