Kupang, KN — PT Jamkrida NTT menyerahkan sejumlah bantuan Corporate Social Responsibility (CSR) kepada Panti Asuhan Kasih yang berlokasi di Wali Kota, Kota Kupang, pada Sabtu (16/8/2025).
Kegiatan tersebut dihadiri oleh Plt Direktur PT Jamkrida NTT, Dr. Frits Fanggidae, Plt Direktur Operasional Fredinand Lerick, serta sejumlah pejabat dan karyawan perusahaan.
Dalam sambutannya, Plt Direktur Utama PT Jamkrida NTT, Dr. Frits Fanggidae, mengapresiasi pengelolaan yayasan tersebut.
Ia mengakui bahwa tidak semua orang memiliki kemampuan untuk mengurus yayasan, terutama yang dikelola oleh mereka yang mungkin memiliki keterbatasan ekonomi namun memiliki idealisme yang kuat.
“Kami dari PT Jamkrida NTT melihat yayasan ini sebagai media untuk menyalurkan tanggung jawab sosial perusahaan kepada masyarakat. Walaupun bantuan yang kami berikan tidak banyak, kami berharap kontribusi kecil ini menjadi tanda bahwa perusahaan peduli. Mudah-mudahan bantuan kecil ini dapat tumbuh menjadi sesuatu yang besar,” ujarnya.
Dr. Fanggidae juga menyampaikan bahwa Jamkrida akan fokus berorientasi pada kerja sama dengan pihak-pihak yang memiliki misi dan kepedulian terhadap penanganan kelompok disabilitas.
Ia mencontohkan, salah satu fokus kerja sama antara Indonesia dan Australia saat ini adalah pemberdayaan kelompok disabilitas. Sehingga kegiatan berbagi kasih ini, diharapkan dapat mendorong perhatian lebih besar dari Pemerintah Provinsi NTT.
“Ini juga merupakan salah satu misi Gubernur dan Wakil Gubernur yang menjabat saat ini. Kami berharap bantuan kecil ini dapat membantu pengurus yayasan dalam menjalankan tugasnya,” ujarnya.
Atas nama pimpinan dan segenap karyawan PT. Jamkrida NTT, Dr. Frits Fanggidae mengucapkan salam hormat dan terima kasih kepada pengurus Yayasan Asuhan Kasih, terutama untuk anak-anak yang menghuni panti asuhan tersebut.
“Semoga ini bukan bantuan terakhir, dan Tuhan memberkati segala usaha baik kita dalam mengelola dan mengembangkan yayasan dan pendidikan di sini,” timpalnya.
Sementara itu, Ketua Yayasan Asuhan Kasih, Alexander De Fretes, menjelaskan perkembangan Sekolah Luar Biasa (SLB) yang dikelola yayasan tersebut.







Tinggalkan Balasan