Rembong Neho Betong
Catatan Kuratorial Festival
Oleh: Armin Bell
Bambu adalah tanaman berumpun yang dekat dengan kehidupan masyarakat Manggarai. Semua jenisnya memiliki masing-masing fungsi dalam menopang dan mendukung perjalanan hidup dan kebudayaan.
Bambu ada bagi seorang Manggarai, mulai dari dalam kandungan sampai peristiwa kematian. Nipi teku wae (mimpi menimba air) yang dialami oleh seorang perempuan yang telah menikah adalah pertanda bahwa dia akan segera dikaruniai seorang anak; alat menimba air orang Manggarai pada zaman dahulu adalah gogong/teong dan itu terbuat dari bambu (betong). Pada peristiwa kematian, terdapat upacara adat menyiram air ke halaman rumah dari wadah bambu (pering) sebagai ungkapan perpisahan simbolik kepada yang hendak berjalan ke dunia seberang.
Di antara dua peristiwa besar itu, bambu mengambil peran penting, baik sebagai alat-alat (fisik) maupun sebagai filosofi hidup.
Sebelum mengenal bahan-bahan baku lain, pagar kebun orang Manggarai dibuat dari bahan bambu yang dirangkai-ikat satu sama lain. Ikatan pagar bambu sangatlah kuat untuk melindungi tanaman pertanian dari serangan hama babi hutan. Kekuatan itu kemudian diambil sebagai bahan dasar filosofi neka koas neho kota, neka behas neho kena (kokoh seumpama susunan batu, tak mudah dilepas seumpama pagar); sebuah ajakan agar manusia Manggarai hidup dalam kekerabatan yang erat senantiasa.



Tinggalkan Balasan