Sementara itu, alat-alat lain yang terbuat dari bambu telah lama ada dalam kehidupan masyarakat Manggarai, baik sebagai utama maupun sebagai pendukung. Misalnya: nyiru (doku), dinding rumah (gedek/siding), lantai rumah panggung dan tempat tidur (lencar), atap rumah (sante), dan tiang-tiang rumah atau pondok di kebun. Ada juga berbagai peralatan kesenian yang terbuat dari bambu, seperti mbetung, sunding, cakatinding, bomberdom, dan lain-lain. Di dunia permainan rakyat, kita mengenal engrang (jarang dongkar/jarang haju) yang juga menggunakan bambu sebagai bahan utama, dan masih banyak lagi.
Betapa banyaknya manfaat bambu dalam kehidupan masyarakat Manggarai tentu tidak pernah terlepas dari keutamaan-keutamaannya sebagai tumbuhan berumpun yang kokoh, mudah ditemukan di sekitar kita, penampung air tanah, dan berumur panjang. Bambu adalah tumbuhan yang sekali hidup, tak akan pernah mati (meskipun dipanen berulang-ulang, sejak masih rebung sampai menjadi bambu dewasa). Sifat ini kemudian digunakan sebagai pengingat dalam ungkapan filosofis di Manggarai tentang pentingnya tidak kehilangan akar kebudayaan: eme wakak betong asa, manga wake’n nipu tae; eme muntung gurung pu’u, manga wungkut’n nipu curup.



Tinggalkan Balasan